Gelaran sepakbola tingkat dunia 2026 ini mulai memasuki tahapan akhir, tentu saja semakin kesini, semakin menarik, hanya tim-tim terbaik yang bisa lolos kedalam fase gugur ini, bila menang, maka anda akan bertahan, begitu pun bila kalah, siap-siaplah mengepak koper untuk kembali pulang ke negaranya. Sayangnya, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, ketertarikan dan antusiasme dalam menonton piala dunia tersebut telah meredup, dan hasil-hasil pertandingan pun hanya saya lihat di google ataupun hanya melihat sekilas di highlight yang banyak bersebaran di youtube. Rasanya sudah tak ada waktu dan energi untuk menghabiskan sisa tenaga menyaksikan pertandingan-pertandingan secara penuh. Sampai tulisan ini dibuat, tim-tim besar dan yang kuat secara tradisi masih melaju ke babak selanjutnya, seperti Argentina, Perancis, Belgia, Norwegia, kejutan juga terjadi ketika tim yang pernah beberapa kali juara seperti Jerman dan Brazil harus lebih dini pulang. Karena Piala Dunia kali ini dilaksanaka...
Saya selalu tertarik membaca artikel-artikel tentang gaya hidup minimalis, sebuah pandangan tentang kehidupan yang mengutamakan fungsi, dan mencoba meminimalkan hal-hal yang tidak penting bagi hidup kita, sehingga apa yang ada dalam fikiran dan kehidupan yang kita jalani ini hanya perihal yang penting saja. Minimalis juga bisa berarti membuang yang tidak penting, salah satu dari bacaan artikel itu juga membahas tentang meminimalkan media sosial. Awalnya saya skeptis tentang hal ini, bagaimana bisa kita melepaskan diri dari hal yang justru menjadi tren pada saat ini?, scrolling medsos, baik itu berupa Instagram, Facebook, Tiktok, Threads dsb menjadi sebuah hal yang lumrah, orang (termasuk saya) tentunya pernah dan masih mengalami ketergantungan dan mungkin kecanduan pada medsos ini. Soal manfaat dari medsos ini, saya akui banyak sekali, kita bisa mengetahui berbagai informasi, kabar dan berita dari dunia diluar genggaman kita, tetapi disinilah dimulai merasakan permasalahannya. Ali...