6 Agustus kemarin, saya genap berusia 45 tahun. Sebuah angka yang cukup menunjukkan bila saya sudah cukup "berumur". Bila dulu setiap tanggal 6 Agustus itu saya selalu gembira menyambutnya, tapi di bilangan angka yang sekarang, saya menyambutnya dengan rasa was-was, kuatir, sedih dan takut. Was-was muncul karena diri ini masih merasa ragu, sudah baikkah saya? sudah bijakkah saya karena seharusnya di usia pertengahan 40 tahun ini, seharusnya menjadi sosok yang bijak dan dewasa. Kemudian rasa kuatir, kuatir bila ternyata saya tak berumur panjang, sedangkan amal kebaikan yang nantinya menjadi bekal abadi dalam kehidupan selanjutnya belum maksimal. Kuatir ini juga muncul karena apakah saya sudah cukup berguna bagi kehidupan orang-orang terdekat saya, seperti keluarga, anak, rekan sejawat dan manusia-manusia yang saya kenal sebelumnya. Kemudian sedih, lebih kepada perasaan ternyata banyak waktu yang telah terlewati akan tetapi saya tidak bisa mengisinya dengan hal-hal yang positif...
Beberapa hari ini, saya mencoba merenungi perjalanan hidup saya. Dengan berucap rasa penuh syukur, apapun pencapaian sampai saat ini, saya meyakini itu adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada saya. Mungkin bagi orang lain, hidup saya biasa-biasa saja selayaknya kaum kebanyakan, saya pun merasa demikian, rasanya tidak ada hal yang harus digembar-gemborkan, karena ya memang standar-standar saja, tapi apapun itu saya sangat mensyukurinya. Dari hasil perenungan itu, saya berusaha juga untuk mencari kekurangan apa saja yang harus diperbaiki, hal ini penting kiranya, karena dari kekurangan itu bisa kita evaluasi lagi apa yang harus kita tingkatkan lagi. Konsistensi. Ternyata, kekurangan saya ada dalam satu hal, yaitu konsistensi. Menurut KBBI Daring , konsistensi adalah ketetapan dan kemantapan dalam bertindak atau disebut juga ketaatasasan . Kata ini merupakan turunan dari kata sifat "konsisten" yang berarti tetap (tidak berubah-ubah), ajek, taat asas, serta selaras ...