Langsung ke konten utama

Rasanya Seperti Kemarin




Gelaran sepakbola tingkat dunia 2026 ini mulai memasuki tahapan akhir, tentu saja semakin kesini, semakin menarik, hanya tim-tim terbaik yang bisa lolos kedalam fase gugur ini, bila menang, maka anda akan bertahan, begitu pun bila kalah, siap-siaplah mengepak koper untuk kembali pulang ke negaranya.

Sayangnya, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, ketertarikan dan antusiasme dalam menonton piala dunia tersebut telah meredup, dan hasil-hasil pertandingan pun hanya saya lihat di google ataupun hanya melihat sekilas di highlight yang banyak bersebaran di youtube. Rasanya sudah tak ada waktu dan energi untuk menghabiskan sisa tenaga menyaksikan pertandingan-pertandingan secara penuh.

Sampai tulisan ini dibuat, tim-tim besar dan yang kuat secara tradisi masih melaju ke babak selanjutnya, seperti Argentina, Perancis, Belgia, Norwegia, kejutan juga terjadi ketika tim yang pernah beberapa kali juara seperti Jerman dan Brazil harus lebih dini pulang.

Karena Piala Dunia kali ini dilaksanakan di Amerika  (Benua Amerika, tepatnya), maka ingatan saya pun kembali ke tahun 1994, ketika di tahun itu Amerika Serikat, itulah awal ketertarikan saya pada yang namanya sepakbola. Kalau dihitung secara matematis, maka itu terjadi 32 tahun yang lalu, rasanya seperti kemarin saja, saya yang waktu itu masih duduk di kelas 1 SMP, dengan serius menyimak dan mulai mengenal nama-nama pemain bola yang awalnya asing bagi saya. Jam pertandingan yang disiarkan di televisi Indonesia saat itu adalah pagi sampai siang hari, sedikit membantu dan tidak memberatkan, sehingga tidak perlu begadang.

Tim yang menarik perhatian saat itu adalah Swedia, pemainnya waktu itu Thomas Brolin, Martin Dahlin, Kenneth Anderson dan Thomas Ravelli sebagai kipernya. Lalu melihat Rumania juga pemain dan permainannya cukup oke, saat itu dikomandani Gheorge Hagi, Popescu, Petrescu, Rumania mampu mengalahkan tim mapan seperti Argentina. Tak ketinggalan waktu itu Romario-Bebeto sangat menghibur sampai membawa Brazil menjadi juaranya mengalahkan Italia di babak final, dengan momen abadinya ketika Roberto Baggio harus "mati berdiri" karena gagal eksekusi penalti.

Rasanya masih seperti kemarin, ketika final piala dunia 1994, karena harus melalui babak penalti, maka sampai jam 6 pagi pertandingan masih berlangsung, saya pun masih ingat saat itu adalah hari dimana awal masuk kelas 2 SMP setelah libur panjang kenaikan kelas. Maka ada dilema antara menunggu pertandingan sampai akhir atau harus segera mandi dan berangkat ke sekolah agar tak terlambat dan kena strap dari guru.

32 tahun rasanya seperti masih kemarin, sebuah jangka waktu 3 dekade lebih, atau hampir sama dengan usia jabatan presiden Soeharto berkuasa dengan Orde Barunya.

Ah...Rasanya seperti baru kemarin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan

Saya menulis ini dengan menghela nafas yang berat, awal tahun 2026 ini terasa berat sekali karena harus diawali dengan meninggalnya sepupu dan kakak tertua di waktu akhir Januari dan awal Februari. Keduanya meninggalkan duka yang mendalam karena bagaimanapun mereka berdua memiliki pengaruh dalam perjalanan kehidupan saya. Sedih? Tentu saja, walaupun harus kembali kepada rasa ikhlas yang seakan ringan diucapkan tapi berat untuk dijalani. Ya, kematian memang suatu keniscayaan dan kita pun pada dasarnya sedang menunggu "antrian" kita. Kabar tentang kematian memang selalu menggetarkan dan menggentarkan, menggetarkan karena membuat hati kita bersedih, menggentarkan bisa berarti membuat bertanya lagi kedalam hati, ternyata masih minim bekal amal kita menghadapi kehidupan yang abadi nanti.

Tetaplah Bersyukur

Pernahkah ada satu momen ketika kita "disadarkan" dan tersadar bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang? Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya sendiri. Waktu itu saya sedang duduk di depan sebuah klinik, di bawah cuaca yang cukup panas menyengat, tiba-tiba lewatlah seorang bapak paruh umur yang berjualan sapu ijuk, sapu lidi, sikat dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya, dia berhenti di seberang jalan dan kepalanya mendongak sebentar keatas, lalu terlihat dia menarik nafas yang dalam, sepertinya untuk mengisi kembali ruang oksigen dan menghilangkan rasa lelahnya, lalu dia mengelap peluh dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari saku celananya dan memutuskan melanjutkan lagi perjalanannya yang entah akan berujung dimana. Saya yakin dia tidak melihat saya, tapi saya melihat semua adegan itu dengan jelas. Ada tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam dada saya, dalam hati saya berkata dan bertanya, apakah dia akan mendapatkan rezeki dari hasil...

Peralihan Cinta dari Persib ke Bandung Raya

Terasa sekali gegap gempita luapan emosional kemenangan Persib semalam melawan PSM Makassar, sebuah laga berat yang sangat menentukan untuk langkah menuju "hattrick" juara selama tiga musim beruntun, sepertinya musim ini perjalanan tidak semulus seperti dua musim sebelumnya, pertarungan harus dilakukan hingga pekan terakhir untuk memutusan siapa juara sejati, Persib atau Borneo FC. Tak heran memang apabila antusiasme warga Jawa Barat tak terbendung lagi apabila berbicara tentang Persib. Persib bukan hanya milik kota Bandung saja seperti nama yang mengikutinya, yaitu Persib Bandung, akan tetapi Persib sudah menjadi identitas orang Jawa Barat, bahkan mungkin orang Sunda pada umumnya, maka bukan hanya di wilayah Bandung saja kegembiraan itu tampak, tapi di seantero Jawa Barat pun akan terlihat, pun demikian apabila Persib mengalami kekalahan, maka duka itu akan terasa di semua daerah. Saya pribadi sudah tidak terlalu intens mengikuti jejak Persib, saya sudah berada pada sisi ber...