Langsung ke konten utama

Tetaplah Bersyukur

Pernahkah ada satu momen ketika kita "disadarkan" dan tersadar bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang? Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya sendiri. Waktu itu saya sedang duduk di depan sebuah klinik, di bawah cuaca yang cukup panas menyengat, tiba-tiba lewatlah seorang bapak paruh umur yang berjualan sapu ijuk, sapu lidi, sikat dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya, dia berhenti di seberang jalan dan kepalanya mendongak sebentar keatas, lalu terlihat dia menarik nafas yang dalam, sepertinya untuk mengisi kembali ruang oksigen dan menghilangkan rasa lelahnya, lalu dia mengelap peluh dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari saku celananya dan memutuskan melanjutkan lagi perjalanannya yang entah akan berujung dimana.

Saya yakin dia tidak melihat saya, tapi saya melihat semua adegan itu dengan jelas. Ada tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam dada saya, dalam hati saya berkata dan bertanya, apakah dia akan mendapatkan rezeki dari hasil berjualannya hari ini? Tiba-tiba juga muncul bayangan, betapa mungkin kehadirannya nanti ketika sudah kembali pulang ke rumah, begitu ditunggu oleh istri dan anak-anaknya,untuk jajan dan makan seluruh anggota keluarganya.

Muncul juga penyesalan, bahwa saya tidak bisa membantunya, misal hanya dengan membeli peralatan yang dia jual. Tapi percayalah, dalam hati, saya mendoakan si bapak itu agar hari ini dan selanjutnya dagangannya laku dan bisa memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya. Hari itu, secara tidak langsung si bapak telah memberi ilmu kehidupan, bahwa kadang kita mengeluh, merasa kurang, dan juga misal boros dalam mengeluarkan uang hanya untuk membeli apa yang kita mau dan inginkan, bukan yang sebenarnya kita butuhkan, ternyata di sisi kehidupan lain ada orang yang harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan nilai nominal yang mungkin tidak seberapa dalam pandangan kita.

Komentar

  1. Dari mereka semua saya belajar bersyukur. Dan selalu ingat untuk selalu menoleh kebawah jika saya terlalu lelah berjuang menggapai impian diatas langit..
    Sehat sehat untuk 'Bapak' penjual dan penulis yang baik hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir dan memberikan komentarnya ya

      Hapus
  2. MasyaAllah Jazakallahu Khairan wa Barakallahu fiikum prof.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan

Saya menulis ini dengan menghela nafas yang berat, awal tahun 2026 ini terasa berat sekali karena harus diawali dengan meninggalnya sepupu dan kakak tertua di waktu akhir Januari dan awal Februari. Keduanya meninggalkan duka yang mendalam karena bagaimanapun mereka berdua memiliki pengaruh dalam perjalanan kehidupan saya. Sedih? Tentu saja, walaupun harus kembali kepada rasa ikhlas yang seakan ringan diucapkan tapi berat untuk dijalani. Ya, kematian memang suatu keniscayaan dan kita pun pada dasarnya sedang menunggu "antrian" kita. Kabar tentang kematian memang selalu menggetarkan dan menggentarkan, menggetarkan karena membuat hati kita bersedih, menggentarkan bisa berarti membuat bertanya lagi kedalam hati, ternyata masih minim bekal amal kita menghadapi kehidupan yang abadi nanti.

Menuntaskan Dendam pada Candu Membaca

Soal membaca, saya mungkin sudah sampai pada tahap kecanduan, rasanya ada yang kurang apabila 1 (satu) hari terlewatkan tanpa membaca buku, koran atau majalah yang relevan dengan minat dan hobi saya. Semasa sekolah dasar, bacaan itu berupa majalah Bobo, Ananda, Tomtom ataupun majalah cetakan pemerintah saat itu yaitu Si Kuncung. Nama-nama itu setia menemani perjalanan literasi saya, sadar atau tidak, keberadaannya pun mempengaruhi cara berpikir dan bertindak saat itu. Dari Bobo, belajar rasional dan ilmu pengetahuan, sedangkan dari Kuncung, saya mengenal Indonesia lebih jauh, karena memang kandungan konten si Kuncung itu relatif lebih banyak bercerita tentang Nusantara. Beranjak remaja, Tabloid Bola, GO menjadi referensi, ketertarikan pada dunia sepakbola, mengakibatkan hubungan saya menjadi intens dengan mereka. Selain itu, sajian dari koran KOMPAS juga sudah cukup menggoda, KOMPAS memberikan sebuah sudut dan persfektif lain tentang dunia, baik itu politik dalam dan luar negeri (sesua...