Dari dulu saya tertarik dengan budaya kebersihan Jepang dan etos kerjanya, saya sering membaca artikel yang membahas tentang bagaimana rakyat Jepang sangat cinta akan kebersihan dan bagaimana mereka berdisiplin dalam kehidupan sehari-harinya. Sepertinya kebersihan lingkungan, baik rumah atau perkantoran sudah menjadi nafas kehidupan mereka, kita mungkin bisa melihatnya dari foto-foto di google ataupun medsos, betapa telatennya mereka merawat kebersihan tempat tinggalnya.
Budaya bersih ini tentu tidak datang dengan sendirinya, ada sebuah proses panjang dan melembaga, bagaimana kebiasaan itu diterapkan dari usia dini dan diperkenalkan melalui lembaga pendidikan, yaitu sekolah. Di Jepang, ternyata para siswa tersebut bergantian atau saling bekerjasama membersihkan sekolah mereka sehingga terbentuk kebersamaan, tanggung jawab dan rasa memiliki mereka terutama dalam hal kebersihan lingkungan sekolahnya.
Dan ternyata, kebiasaan itu akhirnya mengakar, menular menjadi sebuah kebiasaan ketika mereka hidup dalam lingkungan sosialnya masing-masing, bahkan kebiasaan ini menjadi sebuah hal yang populer secara internasional terutama sejak Piala Dunia 2018 di Rusia, saat itu di setiap usai pertandingan yang melibatkan timnas Jepang, para suporternya dengan penuh kesadaran membersihkan kembali sampah-sampah mereka, bahkan sepertinya memang mereka menyiapkan kantung plastik besar untuk melakukan aksinya.
Bukan hanya suporternya, para pemain dan official timnas Jepang pun ternyata melakukan hal yang sama, setiap mereka selesai bertanding, suasana dan kondisi ruang kamar ganti yang mereka tempati akan dipastikan dalam kondisi bersih kembali seperti semula, atau malah lebih bersih, tak lupa mereka juga memberikan pesan ucapan terima kasih kepada federasi tuan rumah, menggunakan bahasa tuan rumah, sebuah aksi yang penuh simpatik dan meninggalkan kesan yang positif sebagai tamu.
Bagaimana Dengan Kita ?
Kalau pertanyaan ini ditanyakan kepada kita, tentulah agak bingung menjawabnya, tentu tidak bisa kita sama ratakan dengan menyebutkan bahwa bangsa kita tidak mampu melakukan hal tersebut, pertama misalnya mengenai kebiasaan para murid di Jepang, sekolah-sekolah di kita pun melakukan hal yang sama, di negara kita pun pada umumnya diadakan jadwal piket secara bergiliran, sesuai dengan persetujuan dari siswa mengenai waktu atau hari mereka mendapatkan tugasnya, akan tetapi apakah hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan ketika mereka berada di lingkungan terdekatnya misal di lingkungan keluarga dan masyarakat? Kemudian apakah kebiasaan suporter sepakbola kita juga sudah melakukan hal yang sama? Bahkan biasanya yang kita temukan, bukan suatu hal yang aneh apabila pasca kegiatan-kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah yang banyak, maka secara otomatis gunungan sampah akan terbentuk, bahkan untuk kegiatan-kegiatan bernafaskan religius pun hal itu biasa terjadi.
Kita Bisa Seperti Jepang.
Tanpa menawarkan sebuah pesimisme, saya berani mengatakan kepada anda para pembaca terutama untuk saya sendiri, kita bisa meniru apa yang menjadi kebiasaan warga Jepang itu sendiri, kalaulah kesadaran secara masif pada masyarakat kita agar tumbuh kecintaan pada soal kebersihan itu sulit dilakukan, kita bisa memulai dari diri kita sendiri, dengan cara memulai apa yang kita bisa lakukan di lingkungan terdekat kita sendiri. Bagi saya sendiri, saya mencoba untuk membersihkan rumah sebisa dan semampu saya, kemudian mencoba untuk membuang sampah pada tempatnya yang telah tersedia dan juga kalau bisa dipilah-pilah berdasarkan jenisnya. Memang hal tersebut mungkin langkah kecil saja, tetapi saya juga meyakini bahwa aksi besar yang melibatkan kesadaran masyarakat pada lingkup yang besar, biasanya diawali dari kesadaran individu-individu itu sendiri di lingkungan dimana dia berada.
Komentar
Posting Komentar