Langsung ke konten utama

Membuang Barang

Hari ini saya bersih-bersih rumah, suatu hal yang biasa dikerjakan setiap hari, walaupun ya tidak bersih-bersih amat. Entah kenapa saya suka melakukan pekerjaan rumah tersebut, mulai dari menyapu, ngepel lantai, cuci piring, bersih-bersih WC dan lain sebagainya, rajin kan?.

Ada perasaan tenang ketika melakukannya, entah mungkin ini efek psikologis dari bebersih ya ?, apalagi kalau sudah selesai dan kita melihat kamar dan rumah kita bersih, rasanya lega dan plong saja. 

Namun kadang ada rasa tidak puas, ternyata bukan bersih saja tujuan yang ingin dicapai, tapi saya ingin ruang yg lebih luas, lebih lega, maka pada bebersih kali ini saya menargetkan untuk lakukan "decluttering" ekstrim, yaitu dengan cara mengurangi bahkan mungkin dalam tahapan membuang barang-barang yang sudah tidak saya gunakan lagi.

Berikut beberapa hal yg saya singkirkan hari ini ;

1. Dari area kamar, saya mulai menata kasur, kolong kasur, dekat meja kerja dan meja cermin, saya membuang sampah-sampah yang tidak terlihat selama ini di kolong kasur, ternyata lumayan banyak juga debu dan sedikit kertas atau plastik. Saya juga menemukan di meja cermin bekas-bekas obat yg tidak habis, wadah parfum yang sudah kosong, baterai bekas, kabel-kabel bekas cas hp yg rusak dan tidak terpakai lagi.

2. Di ruang depan atau tamu, hampir tidak ada yang saya buang, lebih ke merapikan saja rak sepatu dan lemari.

3. Di lemari baju, saya singkirkan beberapa baju yang sudah tidak saya pakai lagi, ada baju kaos yang sebetulnya sudah belel bahkan bolong-bolong, tapi saya masih pakai buat tidur karena rasanya masih nyaman, namun kali ini saya beranikan diri untuk membuangnya, saya hanya ingin yang di lemari itu adalah yang benar-benar kita pakai saja, ternyata di pos ini lumayan juga menguras tenaga dan perasaan, karena mungkin ada beberapa pakaian yang sentimental atau kita suka tetapi sudah lupa kapan terakhir kita memakainya. Dan memang setelah kita pilih-pilih, kita tidak memerlukan pakaian sebanyak itu, saya klasifikasikan saja pakaian itu menjadi 4 bagian, yaitu untuk kerja, untuk di rumah, pakaian resmi dan ibadah, untuk olahraga.

4. Selanjutnya ruangan dapur, nah ini juga memerlukan perhatian khusus, saya menghitung ulang kembali kebutuhan barang-barang dapur yang biasa saya gunakan, mulai dari alat masak, alat makan , alat minum, ternyata memang tidak banyak juga yang kita perlukan, piring, gelas, sendok dan garpu misalnya, ya tinggal dihitung saja jumlah anggota kita, jadi rasanya nyetok peralatan makan dalam jumlah yang banyak juga tidak perlu-perlu amat ya, di tahap ini saya mulai mempertanyakan kembali tumpukan piring dan peralatan dapur di dalam rak lemari.

Di dapur ini juga saya buang wadah-wadah plastik sekali pakai, saya sangat merasa "alergi" dengan model wadah plastik ini, jadi rasanya ga ada alasan untuk menyimpannya, saya sangat sukarela dan ikhlas untuk membuangnya.

5. Di Toilet, saya membuang bungkus pasta gigi, botol sabun dan botol shampo yang sudah kosong.

Itulah beberapa "prestasi" bersih-bersih saya hari ini, memang mungkin berat bagi sebagian kita untuk membuang barang-barang yang memiliki ikatan kedekatan dengan kita, tapi kalau tidak segera kita lakukan, hal itu akan menimbulkan rasa kemelekatan dalam diri kita, dan ternyata yang saya rasakan, bukan soal sempitnya ruangan yang kita miliki, tapi terkadang masalahnya adalah karena kita memiliki terlalu banyak barang.

Selamat bebersih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan

Saya menulis ini dengan menghela nafas yang berat, awal tahun 2026 ini terasa berat sekali karena harus diawali dengan meninggalnya sepupu dan kakak tertua di waktu akhir Januari dan awal Februari. Keduanya meninggalkan duka yang mendalam karena bagaimanapun mereka berdua memiliki pengaruh dalam perjalanan kehidupan saya. Sedih? Tentu saja, walaupun harus kembali kepada rasa ikhlas yang seakan ringan diucapkan tapi berat untuk dijalani. Ya, kematian memang suatu keniscayaan dan kita pun pada dasarnya sedang menunggu "antrian" kita. Kabar tentang kematian memang selalu menggetarkan dan menggentarkan, menggetarkan karena membuat hati kita bersedih, menggentarkan bisa berarti membuat bertanya lagi kedalam hati, ternyata masih minim bekal amal kita menghadapi kehidupan yang abadi nanti.

Menuntaskan Dendam pada Candu Membaca

Soal membaca, saya mungkin sudah sampai pada tahap kecanduan, rasanya ada yang kurang apabila 1 (satu) hari terlewatkan tanpa membaca buku, koran atau majalah yang relevan dengan minat dan hobi saya. Semasa sekolah dasar, bacaan itu berupa majalah Bobo, Ananda, Tomtom ataupun majalah cetakan pemerintah saat itu yaitu Si Kuncung. Nama-nama itu setia menemani perjalanan literasi saya, sadar atau tidak, keberadaannya pun mempengaruhi cara berpikir dan bertindak saat itu. Dari Bobo, belajar rasional dan ilmu pengetahuan, sedangkan dari Kuncung, saya mengenal Indonesia lebih jauh, karena memang kandungan konten si Kuncung itu relatif lebih banyak bercerita tentang Nusantara. Beranjak remaja, Tabloid Bola, GO menjadi referensi, ketertarikan pada dunia sepakbola, mengakibatkan hubungan saya menjadi intens dengan mereka. Selain itu, sajian dari koran KOMPAS juga sudah cukup menggoda, KOMPAS memberikan sebuah sudut dan persfektif lain tentang dunia, baik itu politik dalam dan luar negeri (sesua...

Tetaplah Bersyukur

Pernahkah ada satu momen ketika kita "disadarkan" dan tersadar bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang? Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya sendiri. Waktu itu saya sedang duduk di depan sebuah klinik, di bawah cuaca yang cukup panas menyengat, tiba-tiba lewatlah seorang bapak paruh umur yang berjualan sapu ijuk, sapu lidi, sikat dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya, dia berhenti di seberang jalan dan kepalanya mendongak sebentar keatas, lalu terlihat dia menarik nafas yang dalam, sepertinya untuk mengisi kembali ruang oksigen dan menghilangkan rasa lelahnya, lalu dia mengelap peluh dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari saku celananya dan memutuskan melanjutkan lagi perjalanannya yang entah akan berujung dimana. Saya yakin dia tidak melihat saya, tapi saya melihat semua adegan itu dengan jelas. Ada tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam dada saya, dalam hati saya berkata dan bertanya, apakah dia akan mendapatkan rezeki dari hasil...