Langsung ke konten utama

Ketika Dunia Mulai Terlihat "Pucat"

Beberapa hari lalu, ketika sedang scroll instagram, saya menemukan beberapa gambar yang cukup menarik, gambar tersebut memperlihatkan bahwa sadar atau tidak, kita sekarang lebih melihat dunia lebih seragam dalam hal warna dan mulai kehilangan aneka warna dari benda-benda yang ada di sekitar lingkungan kita.
Memang, selama ini mungkin kita tidak menyadarinya, entah mungkin karena pengaruh mode, jaman atau mungkin juga selera, akan tetapi ternyata kita sekarang berada pada masa yang lebih menginginkan warna-warna "kalem" yang lebih menggambarkan minimalisme ataupun kesederhanaan, berikut gambar-gambar tersebut ;

Tampak dari gambar tersebut, bangunan-bangunan terutama di perkotaan, tampak lebih "pucat", kebanyakan orang mulai memilih warna-warna polos, krem, putih, sesuai dengan tema atau mode minimalis yang sekarang sedang menjadi acuan, bila dibandingkan dengan dulu, biasanya rumah ataupun gedung, menggunakan warna-warna cerah sebagai suatu tanda atau simbol tertentu yang menjadi ciri khas dari bangunan tersebut.
Selanjutnya, tentang warna-warna mobil, rasanya sudah jarang kita lihat mobil atau kendaraan dengan warna-warna yang "ngejreng", kalaulah boleh kita lihat lagi, rasa-rasanya warna-warna mobil yang kita lihat di jalanan, lebih cenderung ke warna putih, hitam, abu-abu metalik, yaitu warna-warna dasar yang cenderung monoton. Hal ini berbeda pada dekade 80 atau 90-an, warna-warna cerah bisa kita lihat mewarnai lalu-lalang jalanan, tidak jauh dengan yang kita lihat pada gambar diatas.
Dan gambar tersebut juga menunjukkan, bahwa warna abu-abu kini lebih banyak mendominasi visual kita sehari-hari.

Yang Hilang Bukan Hanya Warna, Tapi Juga Bentuk.

Memang, di dunia yang dinamis, warna adalah suatu mode yang mengikuti jamannya sendiri, sehingga keseragaman warna tersebut bisa saja mode yang sedang berlaku saat ini sesuai dengan selera, kondisi ataupun perkembangan jaman masa kini. Di masa yang berlangsung serba cepat ini, orang mungkin lebih mementingkan efisiensi dan efektifitas, sehingga kesederhanaan dan minimalisme pada berbagai hal adalah sesuatu yang kita dahulukan dan diprioritaskan. Tak heran, selain aneka warna yang mulai tergusur dari visual kita sehari-hari, bentuk atau alat-alat penunjang kebutuhan kita pun semakin seragam, HP misalnya, kita akan melihat bentuk yang sama, bentuk kotak persegi, sehingga kita tidak bisa membedakan secara sekilas dari merek apa HP itu diproduksi, kita sudah tidak bisa lagi melihat HP dengan bentuk-bentuk dan warna khusus yang menjadi ciri dari pabrikan tertentu. Satu lagi, Televisi, bentuknya adalah hanya sebidang persegi dengan warna hitam yang seragam.

Mudah-mudahan saja ini bukan sebuah bentuk kreatifitas yang sudah mati, karena bagaimanapun kadang kita ingin melihat keanekaragaman warna lagi yang menghiasi hidup kita, bukankah banyaknya perbedaan itu kadang membuat hidup kita lebih indah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Sepakbola Tidak Menarik Lagi

Piala Dunia Sepakbola tahun 1994 di Amerika Serikat adalah waktu pertama yang boleh dibilang saya mulai menyukai menonton olahraga terpopuler sejagat ini, saya terkagum-kagum dengan penampilan timnas Belanda yang berkaos warna oranye kebanggaannya, dari ajang inilah juga saya mulai berlangganan tabloid Bola yang terbit setiap hari Jum'at, waktu itu harganya Rp 750, perlu sedikit perjuangan untuk menghemat uang saku yang tidak seberapa itu disisihkan, hanya untuk membeli tabloid ini. Kesukaan pada sepakbola ini telah mengantarkan saya pada sebuah dunia yang baru dan mengasyikkan. Dari tabloid Bola pula saya sampai hafal nama-nama pesepakbola top dari berbagai liga dunia, begitupun juga nama-nama klub, baik tingkat lokal maupun internasional. Dekade pertengahan 90-an mungkin menjadi masa yang penuh keseruan, terutama untuk penggemar Serie A Italia. Persaingan ketat 7 klub top Italia yang lebih dikenal dengan Magnificent Seven, telah membius perhatian, sehingga kabar tentang klub-kl...

Menuntaskan Dendam pada Candu Membaca

Soal membaca, saya mungkin sudah sampai pada tahap kecanduan, rasanya ada yang kurang apabila 1 (satu) hari terlewatkan tanpa membaca buku, koran atau majalah yang relevan dengan minat dan hobi saya. Semasa sekolah dasar, bacaan itu berupa majalah Bobo, Ananda, Tomtom ataupun majalah cetakan pemerintah saat itu yaitu Si Kuncung. Nama-nama itu setia menemani perjalanan literasi saya, sadar atau tidak, keberadaannya pun mempengaruhi cara berpikir dan bertindak saat itu. Dari Bobo, belajar rasional dan ilmu pengetahuan, sedangkan dari Kuncung, saya mengenal Indonesia lebih jauh, karena memang kandungan konten si Kuncung itu relatif lebih banyak bercerita tentang Nusantara. Beranjak remaja, Tabloid Bola, GO menjadi referensi, ketertarikan pada dunia sepakbola, mengakibatkan hubungan saya menjadi intens dengan mereka. Selain itu, sajian dari koran KOMPAS juga sudah cukup menggoda, KOMPAS memberikan sebuah sudut dan persfektif lain tentang dunia, baik itu politik dalam dan luar negeri (sesua...

Stasiun Sukabumi

Rasanya seperti baru kemarin, saya bisa leluasa masuk ke Stasiun Sukabumi, melihat keriuhan para penumpang kereta yang hendak berangkat ke Cianjur dan Bogor.  Berbekal karcis seperti kartu gapleh yang nantinya akan dibolongi oleh kondektur, para penumpang yang kebanyakan para pedagang itu berjejalan dalam suasana hiruk-pikuk di dalam gerbong. Ditingkahi dengan suara pedagang asongan dan para pengamen, semuanya bersatu dengan aroma keringat dan aroma lainnya. Semuanya saat itu belum teratur, tapi apa pedulinya, belum ada sepertinya pengaturan tempat duduk, pengamanan maksimal dari petugas keamanan dsb, sehingga saya pun dulu bisa bebas keluar masuk stasiun itu hanya untuk mengagumi sebuah jenis transportasi yang berukuran besar yaitu kereta api. Suasana tahun 90-an itu masih terekam dengan jelas, bagaimana sebuah sistem perkereta-apian saat itu masih berjalan dengan semrawut, jauh dari kata keteraturan. Lalu setelah sekian lama, saya mencoba lagi, berangkat dari titik awal Stasiun S...