Langsung ke konten utama

Substitusi Merek

Belakangan ini, harga-harga, terutama yang termasuk dalam kategori sembako rupanya sedang merangkak naik, hampir semuanya, seperti harga beras, sayuran, ikan, daging ayam, aneka perbumbuan, minyak dan masih banyak lagi. Memang sebuah kewajaran dan keniscayaan bahwa harga barang itu akan bersifat dinamis, bisa naik ataupun bisa juga turun (walau yang ini jarang terjadi). Ya kalau menurut para ahli ekonomi, kenaikan harga terjadi bisa karena memang hukum permintaan dan penawaran, persediaan barang yang ada, atau mungkin faktor eksternal atau dari luar yang mempengaruhi harga tersebut, salah satunya karena faktor perang yang terjadi di belahan negara Iran dan Timur Tengah dimana saat ini eskalasinya semakin memanas. Tapi biarlah, agak ruwet juga bila membahas masalah kenaikan harga dipandang dari sudut ekonomi, biarlah itu menjadi ranah para pengambil kebijakan dan sambil kita berdoa semoga harga-harga bisa menjadi stabil kembali.

Bagaimana Respon Kita ?
Lalu bagaimana cara kita menyikapi hal tersebut? Saya meyakini ini adalah salah satu episode berat karena menyangkut soal penghidupan kita, harga yang naik tentunya memberatkan "APBN" keluarga kita, perlu ada langkah-langkah yang kita lakukan untuk menyiasati pengeluaran yang semakin membengkak, sedangkan pendapatan kita mungkin masih segitu-gitu saja.
Manusia sejatinya adalah mahluk yang adaptif, artinya manusia akan selalu berusaha mempertahankan eksistensinya untuk bisa bertahan hidup, banyak sudah pelajaran yang bisa kita ambil dari masa lalu, bagaimana manusia bisa bertahan dari kesulitan karena faktor alam, ekonomi, kelaparan dan sebagainya. Artinya dari sebuah kejadian, biasanya akan muncul solusi cerdas tentang bagaimana bisa bertahan dari guncangan-guncangan permasalahan yang ada.
Saya pribadi, menyikapi kenaikan harga-harga tersebut, adalah dengan menggunakan prinsip "Substitusi Merek", sebuah istilah yang sebetulnya saya namai sendiri saja berdasarkan sebuah teori dalam ekonomi, yaitu substitusi barang. Ternyata, setelah saya cari dalam google, substitusi merek itu ada juga padanan definisinya, yaitu Substitusi merek adalah tindakan mengganti suatu produk dari merek tertentu dengan produk dari merek lain yang memiliki fungsi, manfaat, dan kualitas yang sepadan. Hal ini biasanya dilakukan oleh konsumen karena produk yang diinginkan sedang langka, terlalu mahal, atau untuk menghemat pengeluaran. Nah dari definisi itulah ternyata langkah-langkah "adaptif" terhadap guncangan harga itu bisa kita maknai.
Langkah-langkah konkritnya dari substitusi merek itu adalah sebagai berikut dengan cara Memilah dan memilih merek barang yang bisa disubstitusi.
Saya beruntung saya tidak fanatik dengan sebuah merek, artinya bisa cocok-cocok saja bila menggunakan produk yang sama dengan merek yang berbeda, karena kadang ada juga orang yang hanya cocok dengan merek tertentu, tetapi ketika berganti dengan merek lain, mereka menjadi tidak cocok dan bahkan bisa berpengaruh pada selera dan kesehatan mereka.
Menurut saya, barang-barang yang bisa disubstitusi merek antara lain ;
A. Beras, bila selama ini kita menggunakan merek atau tipe tertentu, disaat seperti ini, rasanya tidak salah mulai mencari merek dan tipe beras yang harganya tidak jauh berbeda.
B. Minyak Goreng, nah ini adalah barang yang banyak sekali variasi merek dan aneka harga, tinggal kita sesuaikan saja dengan anggaran kita, toh mau merek apapun fungsinya sama saja untuk memasak.
C. Air kemasan (galon)
D. Sabun mandi, pasta gigi, shampo.
E. Sabun cuci baju, sabun cuci piring, dan sejenisnya
F. Bumbu-bumbu kemasan.
G. Kecap, Saus dan masih banyak jenis barang lainnya. 
Intinya, dari memilah dan memilah substitusi merek ini, adalah "kerelaan" dari diri kita untuk mungkin merasa "turun takhta" dari biasanya kita menggunakan merek tertentu, ke merek yang lain, yang mungkin kualitasnya juga sedikit berbeda dibawahnya. Ingat, ini adalah cara adaptasi dan penyelamatan diri dari guncangan harga-harga yang semakin menggila. Singkirkanlah rasa gengsi, bukankah inti dari sebuah barang adalah kita mencari nilai fungsinya ?.
Mungkin masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan, seperti mencari harga termurah dari suatu barang, menyesuaikan anggaran dengan harga yang ada seperti misalnya mengurangi volume pembelian, atau menunggu diskon-diskon barang di waktu tertentu. 
Akhirnya adalah kita harus memiliki keyakinan bahwa kita bisa bertahan, kita harus memiliki sikap adaptif terhadap perubahan yang ada, dan tentu berdoa kepada Allah, agar kita selalu diberikan kemudahan serta keluasan rezeki sehingga bisa terpenuhi semua kebutuhan kita.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan

Saya menulis ini dengan menghela nafas yang berat, awal tahun 2026 ini terasa berat sekali karena harus diawali dengan meninggalnya sepupu dan kakak tertua di waktu akhir Januari dan awal Februari. Keduanya meninggalkan duka yang mendalam karena bagaimanapun mereka berdua memiliki pengaruh dalam perjalanan kehidupan saya. Sedih? Tentu saja, walaupun harus kembali kepada rasa ikhlas yang seakan ringan diucapkan tapi berat untuk dijalani. Ya, kematian memang suatu keniscayaan dan kita pun pada dasarnya sedang menunggu "antrian" kita. Kabar tentang kematian memang selalu menggetarkan dan menggentarkan, menggetarkan karena membuat hati kita bersedih, menggentarkan bisa berarti membuat bertanya lagi kedalam hati, ternyata masih minim bekal amal kita menghadapi kehidupan yang abadi nanti.

Tetaplah Bersyukur

Pernahkah ada satu momen ketika kita "disadarkan" dan tersadar bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang? Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya sendiri. Waktu itu saya sedang duduk di depan sebuah klinik, di bawah cuaca yang cukup panas menyengat, tiba-tiba lewatlah seorang bapak paruh umur yang berjualan sapu ijuk, sapu lidi, sikat dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya, dia berhenti di seberang jalan dan kepalanya mendongak sebentar keatas, lalu terlihat dia menarik nafas yang dalam, sepertinya untuk mengisi kembali ruang oksigen dan menghilangkan rasa lelahnya, lalu dia mengelap peluh dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari saku celananya dan memutuskan melanjutkan lagi perjalanannya yang entah akan berujung dimana. Saya yakin dia tidak melihat saya, tapi saya melihat semua adegan itu dengan jelas. Ada tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam dada saya, dalam hati saya berkata dan bertanya, apakah dia akan mendapatkan rezeki dari hasil...

Peralihan Cinta dari Persib ke Bandung Raya

Terasa sekali gegap gempita luapan emosional kemenangan Persib semalam melawan PSM Makassar, sebuah laga berat yang sangat menentukan untuk langkah menuju "hattrick" juara selama tiga musim beruntun, sepertinya musim ini perjalanan tidak semulus seperti dua musim sebelumnya, pertarungan harus dilakukan hingga pekan terakhir untuk memutusan siapa juara sejati, Persib atau Borneo FC. Tak heran memang apabila antusiasme warga Jawa Barat tak terbendung lagi apabila berbicara tentang Persib. Persib bukan hanya milik kota Bandung saja seperti nama yang mengikutinya, yaitu Persib Bandung, akan tetapi Persib sudah menjadi identitas orang Jawa Barat, bahkan mungkin orang Sunda pada umumnya, maka bukan hanya di wilayah Bandung saja kegembiraan itu tampak, tapi di seantero Jawa Barat pun akan terlihat, pun demikian apabila Persib mengalami kekalahan, maka duka itu akan terasa di semua daerah. Saya pribadi sudah tidak terlalu intens mengikuti jejak Persib, saya sudah berada pada sisi ber...