Saya selalu tertarik membaca artikel-artikel tentang gaya hidup minimalis, sebuah pandangan tentang kehidupan yang mengutamakan fungsi, dan mencoba meminimalkan hal-hal yang tidak penting bagi hidup kita, sehingga apa yang ada dalam fikiran dan kehidupan yang kita jalani ini hanya perihal yang penting saja.
Minimalis juga bisa berarti membuang yang tidak penting, salah satu dari bacaan artikel itu juga membahas tentang meminimalkan media sosial. Awalnya saya skeptis tentang hal ini, bagaimana bisa kita melepaskan diri dari hal yang justru menjadi tren pada saat ini?, scrolling medsos, baik itu berupa Instagram, Facebook, Tiktok, Threads dsb menjadi sebuah hal yang lumrah, orang (termasuk saya) tentunya pernah dan masih mengalami ketergantungan dan mungkin kecanduan pada medsos ini.
Soal manfaat dari medsos ini, saya akui banyak sekali, kita bisa mengetahui berbagai informasi, kabar dan berita dari dunia diluar genggaman kita, tetapi disinilah dimulai merasakan permasalahannya. Alih-alih mendapatkan informasi yang dibutuhkan, ternyata hampir setiap saat saya dibanjiri oleh berbagai informasi yang kebanyakannya tidak saya butuhkan, otak saya rasanya diperas untuk mencoba mengolah data dan informasi tersebut, semuanya terasa mencoba untuk "membobol" beranda dan saya "dipaksa" untuk membaca, melihat, mendengar itu semua, bahkan juga dipancing untuk berkomentar, oh betapa lelahnya.
Kelelahan itu ternyata menular, terutama pada mata dan fikiran saya, fokus menjadi hal yang sulit didapat, sebentar-sebentar melihat notifikasi, sebentar-sebentar melihat layar HP kuatir ketinggalan update informasi terbaru, dan konsekuensinya adalah waktu produktif menjadi tergerus.
Kekosongan.
Kini sudah hampir 1 bulan saya memulai meng-uninstall instagram dari hp saya, untuk facebook bahkan sudah lebih lama lagi (saya juga sudah lupa password dan usernamenya), jujur saja itu sangat sulit, pekan pertama reaksinya adalah seperti orang yang kecanduan, jempol ini rasanya ingin sekali menekan kembali playstore, lalu install kembali aplikasi medsosnya, tetapi otak dan hati saya mengatakan jangan, dan itu terjadi berulang-ulang di pekan pertama, dan ternyata selanjutnya saya bisa dan berhasil. Melakukan itu semua selayaknya apa yang dikatakan pepatah-pepatah jaman dulu, bahwa sulit itu biasanya di langkah pertama kita memulai sesuatu.
Lalu kini, apa yang dirasakan? Yang saya rasakan adalah kekosongan, bukan kekosongan karena tidak punya teman-teman lagi di dunia maya,akan tetapi kekosongan ruang di alam fikiran dan beban kapasitas otak saya. Dulu yang setiap hari dibanjiri dengan informasi yang entah benar atau hoax, kini saya seperti diberi kebebasan untuk memilih asupan informasi yang berhak saya terima, saya menjadi manusia bebas kembali yang tidak terikat dengan notifikasi apa yang harus saya terima, otak saya menjadi kosong kembali dan bersiap untuk konsentrasi, fokus pada hal apa yang memang perlu, kekosongan tersebut seperti ruangan yang awalnya penuh dengan sampah, sekarang menjadi ruangan yang kosong melompong.
Mungkin betul sebuah istilah yang saya pernah baca, kadang bukan tempat atau ruangannya yang penuh, tapi ruangan tersebut menjadi lebih sempit karena terlalu banyak barang, menjadi tugas kitalah untuk merapikan dan membersihkannya kembali, agar semuanya menjadi lega kembali.
Komentar
Posting Komentar