Langsung ke konten utama

Peralihan Cinta dari Persib ke Bandung Raya

Terasa sekali gegap gempita luapan emosional kemenangan Persib semalam melawan PSM Makassar, sebuah laga berat yang sangat menentukan untuk langkah menuju "hattrick" juara selama tiga musim beruntun, sepertinya musim ini perjalanan tidak semulus seperti dua musim sebelumnya, pertarungan harus dilakukan hingga pekan terakhir untuk memutusan siapa juara sejati, Persib atau Borneo FC.

Tak heran memang apabila antusiasme warga Jawa Barat tak terbendung lagi apabila berbicara tentang Persib. Persib bukan hanya milik kota Bandung saja seperti nama yang mengikutinya, yaitu Persib Bandung, akan tetapi Persib sudah menjadi identitas orang Jawa Barat, bahkan mungkin orang Sunda pada umumnya, maka bukan hanya di wilayah Bandung saja kegembiraan itu tampak, tapi di seantero Jawa Barat pun akan terlihat, pun demikian apabila Persib mengalami kekalahan, maka duka itu akan terasa di semua daerah.

Saya pribadi sudah tidak terlalu intens mengikuti jejak Persib, saya sudah berada pada sisi bersyukur apabila mendengar kabar Persib menang dan ya tidak mengapa apabila kalah, bagi saya itu adalah hukum sebuah pertandingan, kalau tidak menang ya kalah, walaupun dalam sepakbola kadang menawarkan juga hasil seri. Bukan berarti tidak mencintai Persib selayaknya orang Jawa Barat pada umumnya, akan tetapi lebih ke pergeseran "rasa" saja, dulu waktu masa sepakbola ada dikotomi antara Galatama dan Perserikatan dan Persib bergabung di Perserikatan, saya sangat mendukung Persib, hingga akhirnya kedua kompetisi ini digabung menjadi Liga Dunhill dan Persib menjadi juara edisi pertama kompetisi ini, saya masih menjadi pendukungnya.

Cinta Beralih

Ada satu hal yang membuat rasa pada Persib itu berubah, salah satunya karena ada "cinta" yang lain, dan cinta itu pada klub tetangga Persib sendiri, yaitu Bandung Raya. Ketertarikan itu datang tiba-tiba, Bandung Raya waktu itu muncul menawarkan sesuatu yang baru, yaitu kesan Profesionalisme, disaat tim-tim lain (termasuk Persib) terutama yang berasal dari Perserikatan, masih "menyusu" pada pendanaan daerah, yaitu APBD, sedangkan Bandung Raya murni dari hasil ikatan dengan sponsor layaknya sebuah tim profesional. Selain itu dari susunan pemain pun sangat menjanjikan, walau beberapa sudah termasuk udzur untuk saat itu seperti Ajat Sudrajat (legenda Persib juga), Herry Kiswanto yaitu bek timnas yang memiliki ketenangan luar biasa, atau pemain asingnya seperti Dejan Glusevic dan Olinga Atangana.

Maka kemudian cinta pun berlabuh ke tim ini, semua hal dan informasi mengenai tim ini saya ikuti dengan baik, dalam bentuk kliping ataupun menyaksikan pertandingannya di televisi, maka ketika Bandung Raya yang kemudian bertransformasi menjadi Mastrans Bandung Raya (MBR) menjadi juara Liga Dunhill edisi kedua, perasaan gembira pun membuncah tiada terkira, dan membuat hati ini semakin melupakan Persib.

Lalu nasib dan takdir memang kadang datang tak sesuai harapan, setelah gagal mempertahankan juara di edisi ketiga liga Indonesia (Liga Kansas) karena dikalahkan di final oleh Persebaya, maka pada tahun kompetisi selanjutnya, MBR memutuskan untuk membubaran diri, menurut berita, kesulitan finansial menjadi salah satu penyebabnya. 

Jangan ditanyakan lagi sakitnya bagaimana mendengar tim kesayangan hilang dari peredaran, rasanya seperti patah hati yang tak terobati, setiap hari hanya mencoba untuk mencari informasi, dengan sedikit harapan semoga ada kabar baik terbaru tentang klub ini, bahkan hingga saat ini, sesekali saya masih mencari foto-foto MBR melalui Internet atau dari berita-berita yang terserak dari surat kabar lama. Nyatanya, cinta lama itu akan tetap ada dan tidak akan terganti sepertinya.


Tim MBR saat di Liga Kansas (Liga Indonesia ketiga)


Juara Kompetisi Liga Dunhill II 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Sepakbola Tidak Menarik Lagi

Piala Dunia Sepakbola tahun 1994 di Amerika Serikat adalah waktu pertama yang boleh dibilang saya mulai menyukai menonton olahraga terpopuler sejagat ini, saya terkagum-kagum dengan penampilan timnas Belanda yang berkaos warna oranye kebanggaannya, dari ajang inilah juga saya mulai berlangganan tabloid Bola yang terbit setiap hari Jum'at, waktu itu harganya Rp 750, perlu sedikit perjuangan untuk menghemat uang saku yang tidak seberapa itu disisihkan, hanya untuk membeli tabloid ini. Kesukaan pada sepakbola ini telah mengantarkan saya pada sebuah dunia yang baru dan mengasyikkan. Dari tabloid Bola pula saya sampai hafal nama-nama pesepakbola top dari berbagai liga dunia, begitupun juga nama-nama klub, baik tingkat lokal maupun internasional. Dekade pertengahan 90-an mungkin menjadi masa yang penuh keseruan, terutama untuk penggemar Serie A Italia. Persaingan ketat 7 klub top Italia yang lebih dikenal dengan Magnificent Seven, telah membius perhatian, sehingga kabar tentang klub-kl...

Menuntaskan Dendam pada Candu Membaca

Soal membaca, saya mungkin sudah sampai pada tahap kecanduan, rasanya ada yang kurang apabila 1 (satu) hari terlewatkan tanpa membaca buku, koran atau majalah yang relevan dengan minat dan hobi saya. Semasa sekolah dasar, bacaan itu berupa majalah Bobo, Ananda, Tomtom ataupun majalah cetakan pemerintah saat itu yaitu Si Kuncung. Nama-nama itu setia menemani perjalanan literasi saya, sadar atau tidak, keberadaannya pun mempengaruhi cara berpikir dan bertindak saat itu. Dari Bobo, belajar rasional dan ilmu pengetahuan, sedangkan dari Kuncung, saya mengenal Indonesia lebih jauh, karena memang kandungan konten si Kuncung itu relatif lebih banyak bercerita tentang Nusantara. Beranjak remaja, Tabloid Bola, GO menjadi referensi, ketertarikan pada dunia sepakbola, mengakibatkan hubungan saya menjadi intens dengan mereka. Selain itu, sajian dari koran KOMPAS juga sudah cukup menggoda, KOMPAS memberikan sebuah sudut dan persfektif lain tentang dunia, baik itu politik dalam dan luar negeri (sesua...

Stasiun Sukabumi

Rasanya seperti baru kemarin, saya bisa leluasa masuk ke Stasiun Sukabumi, melihat keriuhan para penumpang kereta yang hendak berangkat ke Cianjur dan Bogor.  Berbekal karcis seperti kartu gapleh yang nantinya akan dibolongi oleh kondektur, para penumpang yang kebanyakan para pedagang itu berjejalan dalam suasana hiruk-pikuk di dalam gerbong. Ditingkahi dengan suara pedagang asongan dan para pengamen, semuanya bersatu dengan aroma keringat dan aroma lainnya. Semuanya saat itu belum teratur, tapi apa pedulinya, belum ada sepertinya pengaturan tempat duduk, pengamanan maksimal dari petugas keamanan dsb, sehingga saya pun dulu bisa bebas keluar masuk stasiun itu hanya untuk mengagumi sebuah jenis transportasi yang berukuran besar yaitu kereta api. Suasana tahun 90-an itu masih terekam dengan jelas, bagaimana sebuah sistem perkereta-apian saat itu masih berjalan dengan semrawut, jauh dari kata keteraturan. Lalu setelah sekian lama, saya mencoba lagi, berangkat dari titik awal Stasiun S...