Langsung ke konten utama

Akhir yang Megah Untuk Messi

Saya yakin siapapun orangnya, berkiprah dalam bidang apapun pekerjaannya, ingin dikenang sebagai sebuah sesuatu atau orang  yang baik di akhir masa pengabdiannya, termasuk itu atlet sepakbola khususnya. Beberapa hari yang lalu, dunia menyaksikan di Argentina, jutaan rakyat negara tersebut melepas salah satu ikon sepakbolanya yang sudah berjuang bahu-membahu bersama rekan-rekannya di pentas internasional selama kurang lebih dua puluh tahun, pemain itu bernama Leonel Messi.

Adalah suatu kewajaran bila rakyat Argentina melepasnya dengan keharuan dan rasa bangga tentunya, rentetan gelar, baik secara individu yang diraihnya justru diluar negaranya dan juga secara tim berupa Piala Amerika dan Piala Dunia, telah membawa negara itu pada level keharuman yang luar biasa, maka perpisahan yang megah adalah ganjaran yang tepat.

Messi memutuskan pensiun dari timnas pastinya sudah dia pertimbangkan dengan baik, tentu saja kalau dia masih mau bertahan hingga Piala Dunia berikutnya, dia pasti masih mampu, dia dikelilingi oleh rekan-rekan tim yang mau berkorban untuknya karena respek dan kekaguman akan sosok dirinya masih sangat besar, sebesar harapan dan doa-doa dari rakyat Argentina, fisiknya pun mungkin masih memadai walau tentu saja kecepatannya akan berkurang.

Tapi tentu dia berfikir panjang, ada sesuatu yang lebih penting bagi timnas yang akan terlewatkan bila dia masih memilih untuk bertahan, yaitu regenerasi, sepertinya dia memilih jalan mundur untuk memuluskan proses regenerasi tersebut, sebuah hal yang memang harus terjadi dan secara alamiah hanya tinggal menunggu waktu.

Saatnya Berkata Cukup

Saya meyakini bahwa dia pasti menjalani proses kontemplasi atau perenungan yang cukup lama sebelum mengambil keputusan tersebut. Naluri dasar manusia pastinya ingin selalu berada dalam puncak kesuksesan, terus selalu dalam sorotan orang banyak terutama media yang pada akhirnya semua kondisi tersebut berujung pada pendapatan finansial yang tetap terjaga aliran derasnya. Tetapi sebagai sesuatu yang juga fana, manusia atau atlet khususnya akan terbentur pada kenyataan alamiah, yaitu usia, usia tidak akan pernah bohong, itu akan mempengaruhi kecepatan, ketahanan, stamina dan mungkin juga cara dalam mengambil sebuah keputusan. Maka mengambil jalan mundur atau pensiun, adalah sebuah keberanian yang luar biasa.

Dari Messi saya belajar, bahwa kita harus berani mengatakan "Cukup" bila nanti waktunya tiba, mungkin kita bukan atlet yang selalu dipacu kecepatan dan kekuatan, tapi kita juga menghadapi suatu hal yang sama nantinya, seperti usia kerja kita di rentang usia 60 tahun nanti, ada saatnya kita harus mundur, meninggalkan pekerjaan yang kita cintai, meninggalkan sebuah aktivitas yang sudah menjadi darah daging kita, mungkin untuk beberapa alasan, seperti memberi kita ruang waktu untuk beristirahat atau memberi jalan baru untuk generasi kita yang lebih muda.

Dan kita harus siap, bahwa konsekuensinya adalah hidup kita menjadi sunyi, lepas dari sorotan orang lain, bahkan mungkin penghasilan yang nantinya meredup. Semua memang ada waktunya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan

Saya menulis ini dengan menghela nafas yang berat, awal tahun 2026 ini terasa berat sekali karena harus diawali dengan meninggalnya sepupu dan kakak tertua di waktu akhir Januari dan awal Februari. Keduanya meninggalkan duka yang mendalam karena bagaimanapun mereka berdua memiliki pengaruh dalam perjalanan kehidupan saya. Sedih? Tentu saja, walaupun harus kembali kepada rasa ikhlas yang seakan ringan diucapkan tapi berat untuk dijalani. Ya, kematian memang suatu keniscayaan dan kita pun pada dasarnya sedang menunggu "antrian" kita. Kabar tentang kematian memang selalu menggetarkan dan menggentarkan, menggetarkan karena membuat hati kita bersedih, menggentarkan bisa berarti membuat bertanya lagi kedalam hati, ternyata masih minim bekal amal kita menghadapi kehidupan yang abadi nanti.

Peralihan Cinta dari Persib ke Bandung Raya

Terasa sekali gegap gempita luapan emosional kemenangan Persib semalam melawan PSM Makassar, sebuah laga berat yang sangat menentukan untuk langkah menuju "hattrick" juara selama tiga musim beruntun, sepertinya musim ini perjalanan tidak semulus seperti dua musim sebelumnya, pertarungan harus dilakukan hingga pekan terakhir untuk memutusan siapa juara sejati, Persib atau Borneo FC. Tak heran memang apabila antusiasme warga Jawa Barat tak terbendung lagi apabila berbicara tentang Persib. Persib bukan hanya milik kota Bandung saja seperti nama yang mengikutinya, yaitu Persib Bandung, akan tetapi Persib sudah menjadi identitas orang Jawa Barat, bahkan mungkin orang Sunda pada umumnya, maka bukan hanya di wilayah Bandung saja kegembiraan itu tampak, tapi di seantero Jawa Barat pun akan terlihat, pun demikian apabila Persib mengalami kekalahan, maka duka itu akan terasa di semua daerah. Saya pribadi sudah tidak terlalu intens mengikuti jejak Persib, saya sudah berada pada sisi ber...

Tetaplah Bersyukur

Pernahkah ada satu momen ketika kita "disadarkan" dan tersadar bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang? Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya sendiri. Waktu itu saya sedang duduk di depan sebuah klinik, di bawah cuaca yang cukup panas menyengat, tiba-tiba lewatlah seorang bapak paruh umur yang berjualan sapu ijuk, sapu lidi, sikat dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya, dia berhenti di seberang jalan dan kepalanya mendongak sebentar keatas, lalu terlihat dia menarik nafas yang dalam, sepertinya untuk mengisi kembali ruang oksigen dan menghilangkan rasa lelahnya, lalu dia mengelap peluh dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari saku celananya dan memutuskan melanjutkan lagi perjalanannya yang entah akan berujung dimana. Saya yakin dia tidak melihat saya, tapi saya melihat semua adegan itu dengan jelas. Ada tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam dada saya, dalam hati saya berkata dan bertanya, apakah dia akan mendapatkan rezeki dari hasil...