Negeri ini sedang euforia, Senin (5/10/2026) Tim Nasional sepakbola kita menjadi juara di tingkat ASEAN dimana turnamen ini bersifat resmi dari induk sepakbola dunia, yaitu FIFA.
Kemenangan yang diraih dilalui melalui perjuangan yang keras dan penuh dengan "kemustahilan" terutama di pertandingan terakhir penyisihan grup, dimana kita menang melalui skor yang meyakinkan yaitu 9-2 melawan timnas dari negeri antah-berantah, Bangladesh. Sebetulnya tim Bangladesh ini tim lemah, akan tetapi permasalahannya di grup lain, negara jiran kita yang hubungannya kalau sudah menyangkut perihal olahraga selalu menjadi panas yaitu Malaysia, juga berpeluang masuk final karena memiliki selisih gol yang pada awalnya diatas kita, maka jadilah pertandingan melawan Bangladesh seakan-akan menjadi final hidup mati, diperlukan bukan hanya sebuah kemenangan, tapi bagaimana mencetak gol sebanyak-banyaknya untuk akhirnya mengungguli tetangga kita itu. Dan syukurlah, tantangan di babak penyisihan itu bisa kita lewati dengan baik hingga akhirnya kita menantang raja sepakbola Asean, yaitu Thailand, ibarat kita lepas dari ancaman terkaman harimau, malah masuk ke sarang atau kumpulan Gajah, yang kalau tidak bisa kita atasi, malah kita hancur dilumatnya lagi.
Trauma Runner-Up.
Jujur saja, ketika membaca kita harus menghadapi Thailand, maka rasa pesimis mulai mendera. Saya kira wajar, pengalaman telah mengajarkan kita, bahwa negara Gajah Putih ini selalu menjadi momok yang menakutkan dan selalu menggagalkan ambisi kita di puncak final suatu turnamen.
Saya masih ingat, betapa menyakitkannya kita pernah gagal di rumah sendiri (GBK) dan dibawah sorotan jutaan mata pendamba medali emas sepakbola Sea Games 1997, di final, timnas kita terkulai lemas melalui adu penalti, padahal saat itu nama-nama beken seperti Kurniawan Dwi Julianto, Fahri Husaini, Khairil Anwar, Aji Santoso, Sugiantoro, Widodo CP menghiasi wajah timnas, apalagi pelatihnya saat itu adalah pelatih favorit saya karena pernah membawa Mastrans Bandung Raya juara Liga Indonesia setahun sebelumya, yaitu pelatih Henk Wullems. Dan selanjutnya di event lain, kita menjadi bulan-bulanan Thailand terutama di babak final, maka menjadi suatu kewajaran apabila kita selalu "dikutuk" untuk selalu gagal menjadi juara bila berhadapan dengan negara itu.
Trauma itu Hilang
Dan kutukan itu seperti hilang di waktu final kemarin, walaupun memang tidak mudah, kita sempat memimpin, kemudian disamakan, bahkan mereka sempat unggul sebelum di menit-menit akhir kita mampu menjaga optimisme untuk tetap bertahan di babak adu penalti.
Di babak inilah, kembali jantung ini berdegup, timnas kita selalu tidak beruntung di babak seperti ini, tapi ternyata para punggawa timnas kita yang malam itu diisi para pemain diaspora berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan kita akhirnya bisa merasakan nikmatnya menjadi kampiun sepakbola.
Saya kira dan saya merasa, bukan saja kemenangan ini sebagai suatu keunggulan atas Thailand, tapi bebasnya sebuah trauma kegagalan di partai final yang sering timnas kita alami, sungguh kemenangan ini membawa suasana optimisme bahwa kita pun bisa menjadi juaran tanpa terkungkung lagi sebuah pesimisme, tentu saja kita juga berharap bahwa kemenangan ini menjadi "kran pembuka" pada prestasi-prestasi timnas kita dimasa depan, walau memang kita juga harus menjaga optimisme kita tersebut pada realita dimana peta atau posisi sepakbola kita berpijak.
Untuk sementara, rayakan saja kemenangan ini terlebih dahulu, untuk kemudian kita pikirkan kembali event yang akan dihadapi lagi nanti, yaitu Piala Asia.
Komentar
Posting Komentar