Langsung ke konten utama

Belajar Sejarah Dengan GenZ, Melalui Media Film G30S/PKI

Mempelajari sejarah terutama untuk generasi Z (GenZ) itu mudah-mudah susah. Biasanya dalam benak mereka, Sejarah itu adalah sesuatu yang tidak menarik karena bercerita tentang masa lalu, kadang timbul pertanyaan dari diri mereka, untuk apa bersusah-susah mempelajari masa lalu dan apa relevansinya untuk masa sekarang. Belum lagi, pembelajaran Sejarah di ruang kelas sering terjebak pada materi-materi hafalan seperti siapakah tokoh ini ? atau bahkan hanya berkutat pada hafalan tanggal, bulan dan tahun yang tak jarang membuat Sejarah menjadi sesuatu yang usang, tidak menarik dan membosankan.
Padahal banyak cara dan jalan untuk membuat GenZ ini kembali tertarik pada Sejarah, salah satunya adalah dengan melalui media Film.

Film Pengkhianatan G30S/PKI.
Dalam momen-momen akhir bulan September ini, kalau kita tarik kembali ke masa lalu terutama pada masa Orde Baru, menonton Film Pengkhianatan G30S/PKI adalah sebuah "keharusan" bagi rakyat Indonesia, tentu kita masih ingat, setiap tanggal 30 September malam, film ini diputar di satu-satunya chanel televisi yang ada pada waktu itu, yaitu TVRI, dengan durasinya yang panjang, sekitar 4,5 jam kita bisa menyaksikan bagaimana awal sampai akhir sebuah sejarah yang mengubah tatanan politik dan pemerintahan yang mengakibatkan perubahan zaman dari Orde Lama ke Orde Baru. Bagi generasi kelahiran tahun 60,70 atau 80-an, mungkin sampai saat ini kita bisa merasakan kengeriannya, mulai dari musiknya yang mencekam, asap rokok yang mengepul dari para perencana kegiatan pemberontakan, hingga potongan-potongan dialog yang ikonik dan pastinya kita ingat sampai sekarang, seperti "Darah itu merah, Jendral" atau " Sebaiknya tidak usah mandi,Jendral", atau adegan penyiksaan dengan irisan silet di wajah, semua itu menyisakan catatan memori bagi generasi-generasi lampau.
Permasalahannya adalah bagi Gen Z , mereka tidak mengalami "kewajiban" menonton film itu seperti yang kita alami, bahkan mungkin peristiwa G30S/PKI sendiri, bagi mereka hanya sekilas informasi saja di buku-buku pelajaran Sejarah, tidak se-intens generasi kita yang waktu itu ada mata pelajaran khusus yang membahas permasalahan tersebut, yaitu pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Hal ini menyebabkan pemahaman mereka pada peristiwa ini sangat minim, oleh karena itulah kiranya menonton kembali film ini menjadi sebuah hal yang cukup penting dan berguna untuk pemahaman mereka terhadap sejarah bangsa ini.

Metode Nonton Bareng 
Memang menjadi suatu hal yang menyenangkan bila menonton film ini secara bersama-sama, ada kesempatan bagi kita sebagai narasumber untuk menerangkan secara rinci tentang alur cerita film ini.
Sebagai salah satu film dokumenter, maka film berdurasi panjang ini mencoba untuk menampilkan keadaan yang sebenarnya. Menurut pembuatnya, film ini berdasarkan bukti-bukti nyata dari pengakuan para pelaku, hasil pemeriksaan dan persidangan serta pengakuan para saksi-saksi, sehingga validitasnya bisa dipertanggungjawabkan (terlepas dari semua kontroversi yang menyebutkan bahwa film ini adalah bentuk proapganda Orde Baru).
Yang harus diperhatikan, bagaimana caranya agar para penonton dari kalangan GenZ ini bisa memahami dan mengetahui bagaimana alur ceritanya. Hal yang penulis lakukan ketika memandu film ini adalah biasanya setiap scene adegan-adegan tertentu, maka biasanya diselingi dengan penjelasan, hal ini penting, karena para GenZ pun tidak paham siapakah tokoh ini?, apa perannya dalam peristiwa ini dan mengapa hal ini dilakukan, tidak jarang, film dihentikan terlebih dahulu, untuk memberikan penjelasan secara rinci sampai mereka paham, jadi metode dalam menonton film ini tidak membiarkan mereka menonton tanpa panduan kita. Di akhir film, kita juga wajib memberikan penjelasan tentang hikmah dan harapan kita agar peristiwa memilukan ini tidak boleh terjadi lagi dan paham komunisme tidak bisa bangkit kembali dengan cara dan bentuk apapun.

Sejarah Sebagai Sarana Hiburan.
Terakhir, mempelajari itu sangat penting, pengetahuan yang baik akan sejarah, nantinya akan membawa kesadaran pada diri GenZ bahwa banyak hikmah yang terjadi dalam perjalanan bangsa ini hingga detik sekarang, cara membangun kesadaran tersebut adalah berusaha untuk menyajikan kembali dalam bentuk yang mudah difahami secara audio-visual, salah satunya dengan Film. Sejarah, selain sebagai ilmu, juga sebagai sarana hiburan, disinilah peran film itu , sehingga diharapkan nantinya Sejarah akan kembali dinikmati, bukan sebagai sesuatu yang usang dan tidak dibutuhkan, yang akhirnya hanya membuat GenZ tidak memiliki dasar, kesadaran dan kecintaan pada negerinya sendiri.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan

Saya menulis ini dengan menghela nafas yang berat, awal tahun 2026 ini terasa berat sekali karena harus diawali dengan meninggalnya sepupu dan kakak tertua di waktu akhir Januari dan awal Februari. Keduanya meninggalkan duka yang mendalam karena bagaimanapun mereka berdua memiliki pengaruh dalam perjalanan kehidupan saya. Sedih? Tentu saja, walaupun harus kembali kepada rasa ikhlas yang seakan ringan diucapkan tapi berat untuk dijalani. Ya, kematian memang suatu keniscayaan dan kita pun pada dasarnya sedang menunggu "antrian" kita. Kabar tentang kematian memang selalu menggetarkan dan menggentarkan, menggetarkan karena membuat hati kita bersedih, menggentarkan bisa berarti membuat bertanya lagi kedalam hati, ternyata masih minim bekal amal kita menghadapi kehidupan yang abadi nanti.

Peralihan Cinta dari Persib ke Bandung Raya

Terasa sekali gegap gempita luapan emosional kemenangan Persib semalam melawan PSM Makassar, sebuah laga berat yang sangat menentukan untuk langkah menuju "hattrick" juara selama tiga musim beruntun, sepertinya musim ini perjalanan tidak semulus seperti dua musim sebelumnya, pertarungan harus dilakukan hingga pekan terakhir untuk memutusan siapa juara sejati, Persib atau Borneo FC. Tak heran memang apabila antusiasme warga Jawa Barat tak terbendung lagi apabila berbicara tentang Persib. Persib bukan hanya milik kota Bandung saja seperti nama yang mengikutinya, yaitu Persib Bandung, akan tetapi Persib sudah menjadi identitas orang Jawa Barat, bahkan mungkin orang Sunda pada umumnya, maka bukan hanya di wilayah Bandung saja kegembiraan itu tampak, tapi di seantero Jawa Barat pun akan terlihat, pun demikian apabila Persib mengalami kekalahan, maka duka itu akan terasa di semua daerah. Saya pribadi sudah tidak terlalu intens mengikuti jejak Persib, saya sudah berada pada sisi ber...

Tetaplah Bersyukur

Pernahkah ada satu momen ketika kita "disadarkan" dan tersadar bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang? Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya sendiri. Waktu itu saya sedang duduk di depan sebuah klinik, di bawah cuaca yang cukup panas menyengat, tiba-tiba lewatlah seorang bapak paruh umur yang berjualan sapu ijuk, sapu lidi, sikat dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya, dia berhenti di seberang jalan dan kepalanya mendongak sebentar keatas, lalu terlihat dia menarik nafas yang dalam, sepertinya untuk mengisi kembali ruang oksigen dan menghilangkan rasa lelahnya, lalu dia mengelap peluh dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari saku celananya dan memutuskan melanjutkan lagi perjalanannya yang entah akan berujung dimana. Saya yakin dia tidak melihat saya, tapi saya melihat semua adegan itu dengan jelas. Ada tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam dada saya, dalam hati saya berkata dan bertanya, apakah dia akan mendapatkan rezeki dari hasil...