Langsung ke konten utama

Memakai Masker Kembali



Dua pekan lalu, di awal bulan September, Gunung Anak Krakatau erupsi, dampaknya di tempat saya adalah sampainya jatuhan guguran debu vulkaniknya.
Hal itu baru saya ketahui di hari Minggu pagi, dimulai dari ramainya status WA teman-teman, bahwa debu sudah sampai ke Sukabumi. Awalnya saya tidak begitu peduli, walau ketika pertama kali keluar rumah, terlihat guguran debu itu di lantai rumah, daun-daun pepohonan dan di kendaraan yang lewat lalu-lalang, di kaca mobil-mobil itu terlihat bekas sapuan dari wiper yang menggurat.
Lalu karena harus berangkat sebab ada yang harus dikerjakan, saya pun mengendarai kendaraan roda dua kesayangan, dan tepat ketika tiba di tempat tujuan, tiba-tiba ada rasa sesak dan di mulut seperti ada pasir yang masuk, ah tidak salah lagi, rupanya debu itu masuk melalui kedua lubang hidung saya.
Rasanya berbahaya kalau ini dibiarkan, yang saya baca debu itu sendiri mengandung partikel yang berbahaya bagi paru-paru kita, baik jangka pendek ataupun panjang.
Maka, mengikuti anjuran pemerintah, yaitu harus menggunakan masker terutama ketika keluar rumah, saya akhirnya mengenakan kembali masker untuk beberapa hari kemudian. Rasanya ingatan seperti kembali ke Maret 2020, saat dimana dunia diserang virus Corona, waktu dimana kita tidak boleh lepas dari masker, dan masker menjadi salah satu syarat untuk bisa masuk ke fasilitas-fasilitas umum waktu itu atau ketika bersosialisasi dengan khalayak ramai.
Ada sebuah kekuatiran saat pertama memakainya, kuatir ini akan berlangsung lama, karena jujur saja, memakai masker pertama kalinya setelah beberapa lama lepas darinya terutama setelah 2020 itu, rasanya agak canggung, ada rasa tak nyaman ketika bernafas, butuh sebuah adaptasi lagi untuk memakainya.
Tapi memang, di kondisi iklim yang saat ini tengah kemarau panjang, rasanya masker diperlukan terutama saat beraktivitas di luar ruangan, bukan itu saja, sepertinya masyarakat kita belum memiliki kesadaran dalam pemakaian masker, masker hanya digunakan saat tertentu saja, masker juga belum menjadi kesadaran diri, terutama ketika kondisi kita kurang tidak baik kesehatannya dan harus tetap bersosialisasi dengan orang lain seharusnya masker menjadi "tameng" kita dan juga untuk orang lain. Sayang sekali, anggapan masyarakat kita, masker hanya untuk orang sakit, padahal seharusnya tidak sesempit itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan

Saya menulis ini dengan menghela nafas yang berat, awal tahun 2026 ini terasa berat sekali karena harus diawali dengan meninggalnya sepupu dan kakak tertua di waktu akhir Januari dan awal Februari. Keduanya meninggalkan duka yang mendalam karena bagaimanapun mereka berdua memiliki pengaruh dalam perjalanan kehidupan saya. Sedih? Tentu saja, walaupun harus kembali kepada rasa ikhlas yang seakan ringan diucapkan tapi berat untuk dijalani. Ya, kematian memang suatu keniscayaan dan kita pun pada dasarnya sedang menunggu "antrian" kita. Kabar tentang kematian memang selalu menggetarkan dan menggentarkan, menggetarkan karena membuat hati kita bersedih, menggentarkan bisa berarti membuat bertanya lagi kedalam hati, ternyata masih minim bekal amal kita menghadapi kehidupan yang abadi nanti.

Peralihan Cinta dari Persib ke Bandung Raya

Terasa sekali gegap gempita luapan emosional kemenangan Persib semalam melawan PSM Makassar, sebuah laga berat yang sangat menentukan untuk langkah menuju "hattrick" juara selama tiga musim beruntun, sepertinya musim ini perjalanan tidak semulus seperti dua musim sebelumnya, pertarungan harus dilakukan hingga pekan terakhir untuk memutusan siapa juara sejati, Persib atau Borneo FC. Tak heran memang apabila antusiasme warga Jawa Barat tak terbendung lagi apabila berbicara tentang Persib. Persib bukan hanya milik kota Bandung saja seperti nama yang mengikutinya, yaitu Persib Bandung, akan tetapi Persib sudah menjadi identitas orang Jawa Barat, bahkan mungkin orang Sunda pada umumnya, maka bukan hanya di wilayah Bandung saja kegembiraan itu tampak, tapi di seantero Jawa Barat pun akan terlihat, pun demikian apabila Persib mengalami kekalahan, maka duka itu akan terasa di semua daerah. Saya pribadi sudah tidak terlalu intens mengikuti jejak Persib, saya sudah berada pada sisi ber...

Tetaplah Bersyukur

Pernahkah ada satu momen ketika kita "disadarkan" dan tersadar bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang? Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya sendiri. Waktu itu saya sedang duduk di depan sebuah klinik, di bawah cuaca yang cukup panas menyengat, tiba-tiba lewatlah seorang bapak paruh umur yang berjualan sapu ijuk, sapu lidi, sikat dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya, dia berhenti di seberang jalan dan kepalanya mendongak sebentar keatas, lalu terlihat dia menarik nafas yang dalam, sepertinya untuk mengisi kembali ruang oksigen dan menghilangkan rasa lelahnya, lalu dia mengelap peluh dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari saku celananya dan memutuskan melanjutkan lagi perjalanannya yang entah akan berujung dimana. Saya yakin dia tidak melihat saya, tapi saya melihat semua adegan itu dengan jelas. Ada tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam dada saya, dalam hati saya berkata dan bertanya, apakah dia akan mendapatkan rezeki dari hasil...