Hal itu baru saya ketahui di hari Minggu pagi, dimulai dari ramainya status WA teman-teman, bahwa debu sudah sampai ke Sukabumi. Awalnya saya tidak begitu peduli, walau ketika pertama kali keluar rumah, terlihat guguran debu itu di lantai rumah, daun-daun pepohonan dan di kendaraan yang lewat lalu-lalang, di kaca mobil-mobil itu terlihat bekas sapuan dari wiper yang menggurat.
Lalu karena harus berangkat sebab ada yang harus dikerjakan, saya pun mengendarai kendaraan roda dua kesayangan, dan tepat ketika tiba di tempat tujuan, tiba-tiba ada rasa sesak dan di mulut seperti ada pasir yang masuk, ah tidak salah lagi, rupanya debu itu masuk melalui kedua lubang hidung saya.
Rasanya berbahaya kalau ini dibiarkan, yang saya baca debu itu sendiri mengandung partikel yang berbahaya bagi paru-paru kita, baik jangka pendek ataupun panjang.
Maka, mengikuti anjuran pemerintah, yaitu harus menggunakan masker terutama ketika keluar rumah, saya akhirnya mengenakan kembali masker untuk beberapa hari kemudian. Rasanya ingatan seperti kembali ke Maret 2020, saat dimana dunia diserang virus Corona, waktu dimana kita tidak boleh lepas dari masker, dan masker menjadi salah satu syarat untuk bisa masuk ke fasilitas-fasilitas umum waktu itu atau ketika bersosialisasi dengan khalayak ramai.
Ada sebuah kekuatiran saat pertama memakainya, kuatir ini akan berlangsung lama, karena jujur saja, memakai masker pertama kalinya setelah beberapa lama lepas darinya terutama setelah 2020 itu, rasanya agak canggung, ada rasa tak nyaman ketika bernafas, butuh sebuah adaptasi lagi untuk memakainya.
Tapi memang, di kondisi iklim yang saat ini tengah kemarau panjang, rasanya masker diperlukan terutama saat beraktivitas di luar ruangan, bukan itu saja, sepertinya masyarakat kita belum memiliki kesadaran dalam pemakaian masker, masker hanya digunakan saat tertentu saja, masker juga belum menjadi kesadaran diri, terutama ketika kondisi kita kurang tidak baik kesehatannya dan harus tetap bersosialisasi dengan orang lain seharusnya masker menjadi "tameng" kita dan juga untuk orang lain. Sayang sekali, anggapan masyarakat kita, masker hanya untuk orang sakit, padahal seharusnya tidak sesempit itu.

Komentar
Posting Komentar