Langsung ke konten utama

Ketika Sepakbola Tidak Menarik Lagi

Piala Dunia Sepakbola tahun 1994 di Amerika Serikat adalah waktu pertama yang boleh dibilang saya mulai menyukai menonton olahraga terpopuler sejagat ini, saya terkagum-kagum dengan penampilan timnas Belanda yang berkaos warna oranye kebanggaannya, dari ajang inilah juga saya mulai berlangganan tabloid Bola yang terbit setiap hari Jum'at, waktu itu harganya Rp 750, perlu sedikit perjuangan untuk menghemat uang saku yang tidak seberapa itu disisihkan, hanya untuk membeli tabloid ini.
Kesukaan pada sepakbola ini telah mengantarkan saya pada sebuah dunia yang baru dan mengasyikkan. Dari tabloid Bola pula saya sampai hafal nama-nama pesepakbola top dari berbagai liga dunia, begitupun juga nama-nama klub, baik tingkat lokal maupun internasional.
Dekade pertengahan 90-an mungkin menjadi masa yang penuh keseruan, terutama untuk penggemar Serie A Italia. Persaingan ketat 7 klub top Italia yang lebih dikenal dengan Magnificent Seven, telah membius perhatian, sehingga kabar tentang klub-klub tersebut selalu saya nantikan, dan hati ini telah memilih 2 (dua) klub sebagai Favorit, yaitu AC Parma dan Inter Milan, sehingga pertandingan 2 klub itu akan saya usahakan untuk menonton.

Istilah-istilah Liga Italia.

Mungkin bagi generasi 80-an, tidak akan asing dengan istilah-istilah ini, Attacante*, il Portieri*, Arbitro*, Cattenacio*, Difensore* dan lain sebagainya. Keren saja rasanya bila bercakap-cakap dengan orang lain yang juga penyuka sepakbola Italia, kita menggunakan istilah-istilah ini. Adalah seorang jurnalis tabloid Bola yang tugasnya "mangkal" di Italia, yang memberi dan mengenalkan istilah-istilah itu, dia adalah Rayana Djakasurya, suaranya akan kita dengar biasanya beberapa menit sebelum kick off dimulai, waktu itu hanya RCTI yang menyiarkan liga Italia. Rayana Djakasurya mencoba memberi gambaran di stadion secara live, dia melaporkan di tengah-tengah gemuruh sorak-sorai para Tifosi*. Benar-benar sangat berkesan.

Piala Dunia 2010 adalah Piala Dunia Terakhir.
Semua antusiasme, gairah dan minat saya pada sepakbola seakan berakhir di tahun 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan. Adalah kekalahan timnas Belanda dari Spanyol menjadi penyebabnya. Keindahan permainan Total Football* milik Belanda harus takluk pada sistem Tiki-Taka* milik Spanyol. Semenjak itu, pertandingan tersebut menjadi minat saya terakhir pada sepakbola.

Hilangnya Loyalitas.
Selain itu juga, ternyata sepakbola mulai berubah, sepakbola telah menjadi sebuah industri yang lebih menggurita, modal besar, harga pemain yang gila-gilaan menjadikan sepakbola kehilangan sesuatu. Loyalitas pemain pada suatu klub telah berubah, tidak seperti di masa 90-an, setiap klub memiliki legenda-legendanya sendiri yang dikenal dengan totalitas dan loyalitasnya pada klub, perpindahan pemain agak masih sedikit terjadi,  sehingga dengan sedikit perpindahan tersebut, melahirkan juga kesetiaan pada penggemarnya. Saat itu, tentulah kita kenal Batistuta yang menjadi simbol Fiorentina, Totti sebagai Pangeran klub AS Roma, maupun Paolo Maldini dan Fransesco Baresi sebagai legenda AC Milan.
Tapi kini, kibasan uang dari industri sepakbola yang begitu menggiurkan, membuat banyak para pemain menjadi "kutu loncat" yang dengan begitu mudahnya pindah-pindah klub. Sangat jarang sekarang pemain sepakbola yang betah lama dengan klub yang dia bela.

Sepakbola tidak menarik lagi.
Beberapa hal diatas mungkin menjadi penyebab saya tidak menyukai lagi sepakbola. Bagaimana dengan klub-klub lokal di liga Indonesia?, saya kira sama saja. Dulu, di awal-awal liga Indonesia bergulir, ketika masih ada pemisahan antara klub perserikatan dan Galatama, kita masih disatukan dengan fanatisme daerah darimana klub itu berasal, pemain-pemain asli dari daerah itu telah membuat ikatan "primordialisme" menjadi sangat kuat, Persib contohnya. Tapi kini, Persib pun sudah berubah. Kita mungkin melihat Persib sekarang adalah Persib yang berbeda dengan tahun 80 dan 90-an. Dimana putra-putra asli daerah, menjadi pilar dari permainan klub itu sendiri. Tapi sekarang, berapa orang prosentase dari pemain itu yang merupakan asli dari Bandung atau Jawa Barat pada umumnya.
Akhirnya, melihat itu semua, saya menyadari bahwa sepakbola telah mengajarkan tentang kehidupan itu sendiri. Ada siklus waktu dimana kita menyukainya dan ada saat kita tidak peduli dengan sepakbola.
Sepakbola juga ikut pada rumus kehidupan itu, yakni tidak ada yang abadi.

Catatan
Attacante : Penyerang
Il Portieri : Kiper
Arbitro : Wasit
Cattenacio : Sistem pertahanan gaya khas italia
Tifosi : Suporter
Total Football : Sistem bermain menyerang dan multi posisi khas Belanda.
Tiki-Taka : Sistem permainan umpan-umpan pendek khas Spanyol.

Komentar

  1. Maa Sya Allah Penulis luar biasa, awal yang sama hnya beda fans..🇦🇷
    Semngaat

    BalasHapus
  2. Saya sangat mengapresiasi pandangan yang disampaikan dalam artikel ini. Sepakbola memang selalu menjadi olahraga yang penuh gairah, namun dengan perubahan zaman, tak jarang membuat beberapa aspek dari permainan ini terasa kurang menarik bagi sebagian orang. Artikel ini memberikan wawasan yang baik mengenai tantangan yang dihadapi sepakbola saat ini. Semoga kedepannya, bisa ada inovasi yang membuat sepakbola kembali terasa segar dan lebih dinikmati oleh semua kalangan.

    Salam hormat dari sewa proyektor terdekat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya sudah mampir dan atas komentarnya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stasiun Sukabumi

Rasanya seperti baru kemarin, saya bisa leluasa masuk ke Stasiun Sukabumi, melihat keriuhan para penumpang kereta yang hendak berangkat ke Cianjur dan Bogor.  Berbekal karcis seperti kartu gapleh yang nantinya akan dibolongi oleh kondektur, para penumpang yang kebanyakan para pedagang itu berjejalan dalam suasana hiruk-pikuk di dalam gerbong. Ditingkahi dengan suara pedagang asongan dan para pengamen, semuanya bersatu dengan aroma keringat dan aroma lainnya. Semuanya saat itu belum teratur, tapi apa pedulinya, belum ada sepertinya pengaturan tempat duduk, pengamanan maksimal dari petugas keamanan dsb, sehingga saya pun dulu bisa bebas keluar masuk stasiun itu hanya untuk mengagumi sebuah jenis transportasi yang berukuran besar yaitu kereta api. Suasana tahun 90-an itu masih terekam dengan jelas, bagaimana sebuah sistem perkereta-apian saat itu masih berjalan dengan semrawut, jauh dari kata keteraturan. Lalu setelah sekian lama, saya mencoba lagi, berangkat dari titik awal Stasiun S...

Menuntaskan Dendam pada Candu Membaca

Soal membaca, saya mungkin sudah sampai pada tahap kecanduan, rasanya ada yang kurang apabila 1 (satu) hari terlewatkan tanpa membaca buku, koran atau majalah yang relevan dengan minat dan hobi saya. Semasa sekolah dasar, bacaan itu berupa majalah Bobo, Ananda, Tomtom ataupun majalah cetakan pemerintah saat itu yaitu Si Kuncung. Nama-nama itu setia menemani perjalanan literasi saya, sadar atau tidak, keberadaannya pun mempengaruhi cara berpikir dan bertindak saat itu. Dari Bobo, belajar rasional dan ilmu pengetahuan, sedangkan dari Kuncung, saya mengenal Indonesia lebih jauh, karena memang kandungan konten si Kuncung itu relatif lebih banyak bercerita tentang Nusantara. Beranjak remaja, Tabloid Bola, GO menjadi referensi, ketertarikan pada dunia sepakbola, mengakibatkan hubungan saya menjadi intens dengan mereka. Selain itu, sajian dari koran KOMPAS juga sudah cukup menggoda, KOMPAS memberikan sebuah sudut dan persfektif lain tentang dunia, baik itu politik dalam dan luar negeri (sesua...