Pemilu 1999, pemilu pertama di masa reformasi dan saat pemerintahan BJ. Habibie merupakan pemilu pertama yang saya ikuti. Selayaknya sebagai sesuatu yang pertama kita alami, tentunya banyak kenangan yang saya ingat waktu itu.
Pemilu 1999 diikuti oleh banyak partai (multi partai) tepatnya 48 partai, setelah sebelumnya di masa pemerintahan Pak Harto hanya diikuti oleh 3 partai saja, tentu saja ini menjadi euforia politik bagi masyarakat, pemilih seakan "dimanjakan" oleh banyaknya pilihan sesuai dengan aspirasi dan minat politiknya.
Saat itu, di masa-masa kampanye berlangsung, saya masih duduk di kelas akhir SMA, betapa ramainya diskusi atau obrolan sesama teman tentang partai apa yang akan dipilih, masing-masing punya jagoannya, terkadang debat itu berlangsung panas bahkan kadang saling ejek pilihan partainya pun terjadi . Saat itu sedang "demam" PDI Perjuangan dengan tokohnya Megawati, banyak teman yang mengatakan akan memilih partai itu, ada juga yang akan memilih partai-partai islam, pokoknya seru sekali waktu itu.
Kalau saya ditanya oleh teman, jujur saja masih bingung, walau sudah punya "ancer-ancer" akan memilih apa. Saat itu saya kagum dengan pemikiran-pemikiran dari seorang Yusril Ihza Mahendra, tokoh muda yang pakar hukum tata negara begitu memukau terlihat bila sedang diwawancara, kedudukannya di pemerintahan pada masa Pak Harto sebagai penulis teks pidato presiden, semakin memperlihatkan penguasaan terhadap masalah-masalah negara. Yusril juga saat itu dikenal sebagai murid langsung dari Muhammad Natsir, tokoh Masyumi, yang oleh Yusril mencoba dibangkitkan lagi semangat dan nilai-nilai Masyumi itu melalui Partai Bulan Bintang (PBB), selain itu saya juga tertarik dengan Partai Amanat Nasional (PAN) dengan Amien Rais sang tokoh reformasi sebagai ketua umumnya.
Kalau mendengar cerita-cerita dari orangtua jaman dulu, orangtua saya terutama bapak katanya adalah pemilih Masyumi, maka berdasarkan beberapa pertimbangan, saya akan mantapkan pilihan pada PBB.
Gayung pun bersambut, ada seorang paman saya dan juga fanatik dengan Masyumi, mengajak saya untuk aktif atau turut serta di dalam kepengurusan PBB tingkat kecamatan, tidak saya iya-kan langsung, tapi saya bilang insya allah akan lihat dan ikuti dulu undangan acara yang diselenggarakan partai itu. Beberapa kali rapat atau kampanye secara tertutup dan dialogis partai itu saya ikuti, menarik juga ternyata dunia politik itu gumam saya dalam hati, dan suasana pertemuan terbatas itu benar-benar sederhana saat itu, terkadang konsumsi rapatnya hanya berupa sajian teh hangat tawar langsung dari teko serta kacang rebus dan singkong goreng sebagai santapannya, tapi justru kesederhanaan itu semakin membuat saya betah, mungkin hanya saya saja saat itu yang berusia muda, sisanya adalah para sepuh atau usia lanjut, mereka adalah pemilih-pemilih Masyumi di masa lampau, yang seperti sedang bernostalgia dengan kejayaan masa lalu sebagai partai pemenang pemilu 1955 dibawah PNI. Di Pemilu 1955 yang merupakan pemilu pertama, empat besar pemenang adalah sebagai berikut : PNI, Masyumi, NU dan PKI.
Menolak Jadi Saksi PBB.
Lalu, jelang beberapa hari pemilu 1999, oleh pengurus partai itu saya akan diberi tugas sebagai saksi PBB, tetapi karena beberapa hari sebelumnya saya mendengar bahwa salah seorang kakak laki-laki saya akan jadi saksi di PPP yang berlambang Ka'bah itu, maka saya dengan halus menolak permohonan itu. Alasannya sederhana, saya tidak mau terlihat aneh di depan masyarakat, masa ada adik-kakak nanti duduk di kursi saksi tapi dari 2 partai yang berbeda, nanti dikiranya kita sedang berkonflik ( hahaha....).
Mungkin bila sekarang, itu yang dinamakan Fatsoen Politik, atau adab dalam berpolitik, saya tegaskan saat itu pada pengurus, saya akan jadi simpatisan saja.
Tiba Waktu Pemilu.
Maka, sesuai jadwal dari pemerintah, berlangsunglah pemilu tersebut, 7 Juni 1999. Saya dari pagi sudah bersiap di tempat, tepatnya di sebuah sekolah Madrasah Ibtidaiyah, hari itu rasanya semangat sekali mengikuti pemilu sebagai pemilih, tapi orang lain pun mungkin punya pikiran yang sama, sehingga sekolah tersebut penuh sesak. Ya sudahlah, saya mendahulukan dulu orang lain terutama para orangtua, saya kalau tidak salah kebagian sekitar pukul 10 pagi. Ketika nama dipanggil dan diberi kertas suara 3 lembar, lalu masuk ke kamar suara, hati rasanya tidak menentu, deg-degan lebih tepatnya, saya buka kertas suara yang cukup besar itu dan saya coblos nomor 22, PBB. Setelah itu saya pulang.
Menonton Hasil Perhitungan Suara
Sekitar pukul 13.30 terdengar panggilan dari panitia kepada masyarakat yang akan melihat proses perhitungan suara dipersilakan untuk datang ke tempat pemilihan.
Begitu dimulai, terdengar suara riuh-rendah terutama apabila partai unggulan mereka mendapatkan suara, kadang terdengar tepuk tangan dan suitan. Saya melihat saat itu bahwa peristiwa politik yang besar seperti pemilu ternyata bisa menjadi hiburan tersendiri, pemilu 1999 memberi warna lain dan lebih meriah, karena kalau saya perhatikan dengan pemilu-pemilu sebelumnya, rasanya seperti kaku dan datar saja, masyarakat seperti sudah tahu dan bisa menebak siapa yang akan unggul, sehingga tidak menarik lagi untuk disimak.
Hasil akhir dari perhitungan suara ternyata melahirkan 5 besar pemenang sesuai dengan perkiraan awal, PDI P - Golkar - PPP - PAN -PBB.
Seusai penghitungan suara, masyarakat pun tertib kembali pulang ke rumahnya masing-masing, menyisakan panitia yang harus menyelesaikan tugas rekap sampai malam.Sebuah ketertiban luar biasa bagi masyarakat yang sudah mengikuti pesta besar negara 5 tahunan.
Komentar
Posting Komentar