Semalam saya menonton bola babak final Liga Champions antara Arsenal vs PSG, tidak disengaja awalnya, hanya karena mata ini saja yang tidak bisa terpejam dan pas mindah-mindahin chanel tv, kemudian melihat ada komentator favorit saya dulu, yaitu Bung Kusnaeni (lebih akrab disapa Bung Kus) yang sedang mengulas preview pertandingan setengah jam sebelum laga dimulai. Mata mulai mengantuk dan saya tertidur, lalu sayup-sayup terdengar suara riuh di televisi dan oh rupanya Arsenal unggul di menit ke- 2 pertandingan.
Akhirnya saya cuci muka dan meniatkan diri untuk menonton, tak lupa juga menyiapkan minum dan cemilan untuk menemani. Bagi saya ini pertama kalinya menonton lagi final piala champions, mungkin terakhir yang saya ingat adalah sekitar Mei 2012, hampir 14 tahun lamanya, lama juga rupanya.
Saya memang sudah tak tertarik lagi dengan sepakbola, seperti yang sudah pernah saya bahas sebelumnya di tulisan lain, maka ketika melihat susunan line-up kedua tim, tak ada satupun yang saya kenal atau ketahui, malah yang akrab di telinga adalah nama-nama pelatihnya, Luis Enrique pemain senior timnas Spanyol dan Barcelona sebagai pelatih PSG dan Mikel Arteta, pemain yang pernah bermain di Everton dan Arsenal.
Selama menonton, mata saya memang melihat ke permainan yang berlangsung cepat itu, tapi pikiran saya melayang ke masa lalu, saya mengingat Arsenal semasa kejayaannya di bawah Arsene Wenger, tiba-tiba saya membayangkan seandainya masa kejayaan itu berulang dan yang bermain itu adalah Thierry Henry, Emanuel Petit, Robert Pires, Patrick Viera, Tony Adams, Ian Wright, Kanu, Dennis Bergkamp dan kiper dengan kumisnya yang eksentrik yaitu David Seaman. Kemudian di pihak PSG, tiba-tiba saya bayangkan kalau gawangnya dijaga Bernard Lama, kemudian ada David Ginola si pemain Flamboyan dan striker tajam George Weah, ah semua bayangan keindahan permainan sepak bola pertengahan dan akhir tahun 90-an itu muncul kembali.
Lalu, saya sadar era keindahan dan kejayaan itu sudah lewat, yang ada sekarang adalah sepakbola serba cepat didominasi pemain-pemain usia muda tapi bernilai puluhan atau ratusan juta dollar, sebuah nilai yang sangat fantastis dan mungkin sudah tidak rasional lagi, bahkan mungkin sebuah perbudakan manusia model modern.
Lalu tanpa terasa (karena nontonnya sambil diselingi dengan ketiduran), pertandingan perpanjangan waktu pun selesai, dan harus diakhiri dengan penalti. Bagi saya, tidak ada ketegangan, tidak ada hal dramatis, semuanya berjalan saja tanpa rasa, dan akhirnya PSG menjadi juaranya.
Sesudahnya, langsung saya tidur, dan sebelum benar-benar terlelap, kembali teringat masa lalu, dulu kalau setelah final piala Champions itu, pasti akan menjadi bahan diskusi yang hangat di tongkrongan, mungkin bisa satu minggu lebih, tapi sekarang, cukup saja jadi cerita penghabis malam ini.

Selamat beristirahat, Pak Rusli
BalasHapusTerimakasih ya, sudah mampir di blog saya
BalasHapusMaknyus ulasannya
BalasHapus#forzamilansalawasna..
Generasi 80-an yang tak pernah bisa move on
Hapus