Langsung ke konten utama

Berjalan Kaki

Ada hal yang sebetulnya ringan, bermanfaat tapi rasanya malas dilakukan, dan itu adalah jalan kaki.

Padahal sudah banyak literatur yang saya baca tentang manfaat dan mujarabnya jalan kaki untuk kesehatan tubuh, tapi ya itu tadi, malasnya minta ampun.

Kalau melihat masa lalu, jalan kaki itu adalah rutinitas saya, mulai dari SD, SMP (kadang-kadang) sampai SMA, pergi dan pulang bersekolah itu ya dengan berjalan kaki, jarang sekali menggunakan angkutan umum, selain memang untuk lebih menghemat, kurun waktu itu memang secara umum jalan kaki masih menjadi pilihan, sehingga itu jadi hal yang lumrah.

Dari beberapa pendapat yang saya dengar, ada yang bilang jalan kaki itu untuk apa? Kan sekarang kita dimudahkan dengan banyak alternatif pilihan moda transportasi, untuk yang berpendapat seperti ini sudut pandangnya melihat jalan kaki sebagai sebuah ketertinggalan zaman. Sedangkan yang lain berbicara, jalan kaki itu sudah tidak musim, bahkan malu bila dilihat orang.

Untuk pendapat pertama, saya setuju sih, dalam jarak tempo tertentu jalan kaki menjadi tidak efisien lagi bila tujuan kita jauh, maka naik kendaraan itu solusinya, namun yang kedua itu mungkin relatif, kalau jaraknya dekat, saya malah ingin mencoba kembali berjalan kaki.

Maka, untuk beberapa saat, rasa malas itu harus dilawan, saya mulai dengan berjalan kaki bila ke tempat-tempat yang dekat, saya berjalan dengan santai dan mencoba menikmati kembali langkah demi langkah, berjalan kaki juga kadang menjadi arena sosialisasi dengan minimal menyapa, atau setidaknya memberi seutas senyum pada orang yang berpapasan dengan kita.

Kuncinya yaitu lawan rasa malas dan mulailah langkah pertama kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan

Saya menulis ini dengan menghela nafas yang berat, awal tahun 2026 ini terasa berat sekali karena harus diawali dengan meninggalnya sepupu dan kakak tertua di waktu akhir Januari dan awal Februari. Keduanya meninggalkan duka yang mendalam karena bagaimanapun mereka berdua memiliki pengaruh dalam perjalanan kehidupan saya. Sedih? Tentu saja, walaupun harus kembali kepada rasa ikhlas yang seakan ringan diucapkan tapi berat untuk dijalani. Ya, kematian memang suatu keniscayaan dan kita pun pada dasarnya sedang menunggu "antrian" kita. Kabar tentang kematian memang selalu menggetarkan dan menggentarkan, menggetarkan karena membuat hati kita bersedih, menggentarkan bisa berarti membuat bertanya lagi kedalam hati, ternyata masih minim bekal amal kita menghadapi kehidupan yang abadi nanti.

2026

Tidak terasa ya sudah 2026, seperti baru kemarin memulai lembaran 2025, sekarang harus sudah berada di 2026, secara angka mungkin bertambah, tapi pada hakikatnya perjalanan waktu yang terus maju ini semakin membuat jatah kehidupan kita di dunia semakin berkurang. Semoga saja keberkahan selalu Allah berikan dalam sisa-sisa usia kita. Aamiin. Mungkin tidak tepat bila kita jadikan 1 Januari atau bulan Januari menjadi sebuah bulan secara khusus untuk introspeksi, karena perbaikan diri tidak hanya di tanggal dan bulan ini, akan tetapi juga tidak ada salahnya bila kita mencoba untuk memulai memperbaiki dan mengevaluasi kembali catatan langkah-langkah yang pernah dijalani di tahun sebelumnya. 2026 ini saya hanya ingin menjadi lebih baik, segalanya atau semuanya dalam hal-hal kehidupan, ingin juga tiap-tiap hal itu lebih teratur, tertata dan memiliki "goal" yang jelas. Pada dasarnya saya orang yang menyukai detail, semua harus tersusun dengan baik, jelas, teragendakan dan tercatat de...

Tetaplah Bersyukur

Pernahkah ada satu momen ketika kita "disadarkan" dan tersadar bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang? Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya sendiri. Waktu itu saya sedang duduk di depan sebuah klinik, di bawah cuaca yang cukup panas menyengat, tiba-tiba lewatlah seorang bapak paruh umur yang berjualan sapu ijuk, sapu lidi, sikat dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya, dia berhenti di seberang jalan dan kepalanya mendongak sebentar keatas, lalu terlihat dia menarik nafas yang dalam, sepertinya untuk mengisi kembali ruang oksigen dan menghilangkan rasa lelahnya, lalu dia mengelap peluh dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari saku celananya dan memutuskan melanjutkan lagi perjalanannya yang entah akan berujung dimana. Saya yakin dia tidak melihat saya, tapi saya melihat semua adegan itu dengan jelas. Ada tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam dada saya, dalam hati saya berkata dan bertanya, apakah dia akan mendapatkan rezeki dari hasil...