Langsung ke konten utama

Pagi



Saya penyuka pagi hari, terutama antara jam 5 sampai jam 10 pagi, entah kenapa di jam-jam tersebut rasanya "baterai" diri ini terasa full, mood bekerja, mood beraktifitas terasa berada dalam kondisi maksimal, semua pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik. Setelah jam-jam itu, biasanya mood akan sedikit berubah, sedikit menurun dan biasanya ada rasa jemu atau bosan. 
Apalagi di hari Minggu, dimana hari itu hari libur total. Rasanya semua pekerjaan rumah pun bisa saya lakukan, tapi ya itu, jam 10 biasanya menjadi batas antara keinginan untuk beraktivitas dan istirahat. 
Dari artikel yang pernah saya baca, setiap orang memang punya "waktu" aktivitasnya sendiri, maka tak heran bila ada orang yang mampu mengerjakan pekerjaannya secara maksimal di sore hari, bahkan ada yang kuat untuk begadang sepanjang malam untuk menyelesaikan pekerjaannya. 
Kembali ke soal pagi hari, sensasi rasanya memang menyegarkan, rasakanlah angin yang berhembus di pagi hari itu, dingin tapi menyejukkan, apalagi ketika sinar matahari mulai menyapa, terasa hangat ke tubuh kita dan seakan memberi semangat tersendiri. Pagi juga seakan menjadi sebuah lembaran yang baru, terserah kepada kita untuk menuliskannya dengan apa, bila kita memulai pagi dengan sesuatu yang baik, biasanya juga hari itu akan berakhir dengan baik, tapi bila memulai dengan pikiran yang ruwet dan emosi yang tidak baik, maka ending dari hari itu juga berakhir tidak baik. Saya menyukai pagi, karena pagi itu adalah sebuah harapan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan

Saya menulis ini dengan menghela nafas yang berat, awal tahun 2026 ini terasa berat sekali karena harus diawali dengan meninggalnya sepupu dan kakak tertua di waktu akhir Januari dan awal Februari. Keduanya meninggalkan duka yang mendalam karena bagaimanapun mereka berdua memiliki pengaruh dalam perjalanan kehidupan saya. Sedih? Tentu saja, walaupun harus kembali kepada rasa ikhlas yang seakan ringan diucapkan tapi berat untuk dijalani. Ya, kematian memang suatu keniscayaan dan kita pun pada dasarnya sedang menunggu "antrian" kita. Kabar tentang kematian memang selalu menggetarkan dan menggentarkan, menggetarkan karena membuat hati kita bersedih, menggentarkan bisa berarti membuat bertanya lagi kedalam hati, ternyata masih minim bekal amal kita menghadapi kehidupan yang abadi nanti.

Tetaplah Bersyukur

Pernahkah ada satu momen ketika kita "disadarkan" dan tersadar bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang? Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya sendiri. Waktu itu saya sedang duduk di depan sebuah klinik, di bawah cuaca yang cukup panas menyengat, tiba-tiba lewatlah seorang bapak paruh umur yang berjualan sapu ijuk, sapu lidi, sikat dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya, dia berhenti di seberang jalan dan kepalanya mendongak sebentar keatas, lalu terlihat dia menarik nafas yang dalam, sepertinya untuk mengisi kembali ruang oksigen dan menghilangkan rasa lelahnya, lalu dia mengelap peluh dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari saku celananya dan memutuskan melanjutkan lagi perjalanannya yang entah akan berujung dimana. Saya yakin dia tidak melihat saya, tapi saya melihat semua adegan itu dengan jelas. Ada tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam dada saya, dalam hati saya berkata dan bertanya, apakah dia akan mendapatkan rezeki dari hasil...

Menuntaskan Dendam pada Candu Membaca

Soal membaca, saya mungkin sudah sampai pada tahap kecanduan, rasanya ada yang kurang apabila 1 (satu) hari terlewatkan tanpa membaca buku, koran atau majalah yang relevan dengan minat dan hobi saya. Semasa sekolah dasar, bacaan itu berupa majalah Bobo, Ananda, Tomtom ataupun majalah cetakan pemerintah saat itu yaitu Si Kuncung. Nama-nama itu setia menemani perjalanan literasi saya, sadar atau tidak, keberadaannya pun mempengaruhi cara berpikir dan bertindak saat itu. Dari Bobo, belajar rasional dan ilmu pengetahuan, sedangkan dari Kuncung, saya mengenal Indonesia lebih jauh, karena memang kandungan konten si Kuncung itu relatif lebih banyak bercerita tentang Nusantara. Beranjak remaja, Tabloid Bola, GO menjadi referensi, ketertarikan pada dunia sepakbola, mengakibatkan hubungan saya menjadi intens dengan mereka. Selain itu, sajian dari koran KOMPAS juga sudah cukup menggoda, KOMPAS memberikan sebuah sudut dan persfektif lain tentang dunia, baik itu politik dalam dan luar negeri (sesua...