Langsung ke konten utama

Minum Teh



Saya tidak tahu sejak kapan saya menyukai teh, tapi yang diingat kebiasaan itu sudah menjadi kebiasaan yang diturunkan oleh ibu saya sejak saya kecil, biasanya di rumah selalu ada dua jenis air minum, yaitu air putih dan satu lagi air teh. Saya lupa merek teh-nya apa dulu yang digunakan oleh ibu, tapi yang jelas sangat wangi tercium ketika potongan-potongan kecil teh itu berpadu dengan air panas. 

Dan masih di waktu dulu juga sewaktu sekolah, ada semacam mitos yang saya yakini, bahwa bila ingin tetap bertenaga, misalnya ketika sedang pelajaran Penjas/Olahraga, maka sebelum berangkat sekolah, dipastikan saya akan mereguk dulu satu gelas teh manis, yang tentu saja di saat ini, minuman-minuman manis itu akan saya hindari.

Dibanding kopi, saya lebih menyukai teh. Entah ini hanya sugesti atau bukan, wanginya teh itu bisa membuat saya tenang, selain tentunya saja ketika diminum, rasa teh itu memberi warna tersendiri di mulut, apalagi bila teh itu beraroma teh melati. Biasanya waktu yang paling saya nikmati adalah di sore hari, setelah pulang beraktivitas, minum teh menjadi salah satu penghilang penat dan lelah. 

Kita bisa berbeda soal selera, atau mungkin ada yang sama?




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kehilangan

Saya menulis ini dengan menghela nafas yang berat, awal tahun 2026 ini terasa berat sekali karena harus diawali dengan meninggalnya sepupu dan kakak tertua di waktu akhir Januari dan awal Februari. Keduanya meninggalkan duka yang mendalam karena bagaimanapun mereka berdua memiliki pengaruh dalam perjalanan kehidupan saya. Sedih? Tentu saja, walaupun harus kembali kepada rasa ikhlas yang seakan ringan diucapkan tapi berat untuk dijalani. Ya, kematian memang suatu keniscayaan dan kita pun pada dasarnya sedang menunggu "antrian" kita. Kabar tentang kematian memang selalu menggetarkan dan menggentarkan, menggetarkan karena membuat hati kita bersedih, menggentarkan bisa berarti membuat bertanya lagi kedalam hati, ternyata masih minim bekal amal kita menghadapi kehidupan yang abadi nanti.

2026

Tidak terasa ya sudah 2026, seperti baru kemarin memulai lembaran 2025, sekarang harus sudah berada di 2026, secara angka mungkin bertambah, tapi pada hakikatnya perjalanan waktu yang terus maju ini semakin membuat jatah kehidupan kita di dunia semakin berkurang. Semoga saja keberkahan selalu Allah berikan dalam sisa-sisa usia kita. Aamiin. Mungkin tidak tepat bila kita jadikan 1 Januari atau bulan Januari menjadi sebuah bulan secara khusus untuk introspeksi, karena perbaikan diri tidak hanya di tanggal dan bulan ini, akan tetapi juga tidak ada salahnya bila kita mencoba untuk memulai memperbaiki dan mengevaluasi kembali catatan langkah-langkah yang pernah dijalani di tahun sebelumnya. 2026 ini saya hanya ingin menjadi lebih baik, segalanya atau semuanya dalam hal-hal kehidupan, ingin juga tiap-tiap hal itu lebih teratur, tertata dan memiliki "goal" yang jelas. Pada dasarnya saya orang yang menyukai detail, semua harus tersusun dengan baik, jelas, teragendakan dan tercatat de...

Tetaplah Bersyukur

Pernahkah ada satu momen ketika kita "disadarkan" dan tersadar bahwa sudah selayaknya kita bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang? Beberapa hari yang lalu saya mengalaminya sendiri. Waktu itu saya sedang duduk di depan sebuah klinik, di bawah cuaca yang cukup panas menyengat, tiba-tiba lewatlah seorang bapak paruh umur yang berjualan sapu ijuk, sapu lidi, sikat dan beberapa peralatan rumah tangga lainnya, dia berhenti di seberang jalan dan kepalanya mendongak sebentar keatas, lalu terlihat dia menarik nafas yang dalam, sepertinya untuk mengisi kembali ruang oksigen dan menghilangkan rasa lelahnya, lalu dia mengelap peluh dengan sapu tangan yang dikeluarkan dari saku celananya dan memutuskan melanjutkan lagi perjalanannya yang entah akan berujung dimana. Saya yakin dia tidak melihat saya, tapi saya melihat semua adegan itu dengan jelas. Ada tiba-tiba rasa haru menyeruak dalam dada saya, dalam hati saya berkata dan bertanya, apakah dia akan mendapatkan rezeki dari hasil...